Rabu, 31 Agustus 2016

Akupun juga menikmati sodokan-sodokan mantap batang kontol Pak Jali.

Sebut saja namaku Lilis. Sudah dua tahun lebih aku bekerja sebagai seorang pembantu di keluarga Pak Dimas, seorang kepala desa yang sangat dihormati oleh warga setempat. Dan selama itu pulalah aku merasakan pahit-manisnya menjadi seorang pembantu, termasuk manisnya di perkosa.Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur. Baru setelah aku ganti pakaian dengan daster tipis dan menyalakan kipas angin, barilah aku bisa tertidur. Dalam tidur aku sempat bermimpi, Pak Jali, yang merupakan sopir pribadi keluarga Pak Dimas, datang menemuiku. Lucunya, Pak Jali datang menemuiku dalam keadaan telanjang bulat. Meskipun usianya sudah paruh baya, dan berbadan agak pendek, namun beliau masih memiliki postur tubuh yang kekar dan berotot. Khas orang desa yang suka bekerja keras. Dan yang membuatku geli adalah "buah terong" yang menggantung indah di pangkal pahanya. Ih..., begitu menggemaskan.Perlahan-lahan beliau mendekatiku dan langsung meremas remas buah dadaku yang telah terbuka bebas. Entah kenapa belaian Pak Jali terasa begitu nyata, seperti bukan dalam mimpi. Bahkan ketika bibir tebalnya mulai melumat kupingku aku sempat tersentak dan perlahan-lahan terjaga dari tidurku.
 
Namun betapa terkejutnya aku saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata apa yang aku rasakan tadi bukan sekedar mimpi. Dihadapanku ternyata benar-benar ada sosok Pak Jali yang memeluk tubuhku."Pak Jali...! Apa yang Bapak lakukan...?" Aku mendorong tubuh Pak Jali kuat-kuat sehingga dia terjengkang ke belakang. Segera aku menutupi tubuhku yang ternyata juga nyaris telanjang dengan selimut."Tenang, Lis! Sudah lama aku memendam nafsuku terhadapmu...!" Kembali Pak Jali mencoba merengkuh tubuhku. Namun kembali aku mendorong tubuhnya kuat-kuat ke belakang."Pergi...!" bentakku."Atau saya akan teriak!"Silahkan teriak! Percuma saja kamu teriak. Karena tidak akan ada orang yang mendengarmu. Apa kamu lupa, Pak Dimas dan keluarga tadi sore sudah berangkat ke Bandung untuk liburan! Jadi lebih baik kamu turuti saja keinginanku!"Pak Jali tersenyum sinis.Aku semakin ketakutan ketika Pak Jali kembali mendekatiku. Segera saja aku melompat dari ranjang dan mencoba berlari ke arah pintu dengan kondisi telanjang. Namun sial! Aku kalah cepat dengan Pak Jali. Dengan cepat, ia menyergapku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. Kedua tangannya mencengkeram kuat lenganku ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sulit untuk bergerak. Aku mencoba untuk meronta sekuat tenaga. Namun percuma, tenaga Pak Jali memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.

Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkeraman Pak Jali di Tubuhku."Tolong, Pak! Lepaskan saya!" aku menangis dan mengemis kepada Pak Jali. Namun percuma saja. Beliau tidak mendengarkan perkataanku. Bahkan dengan liar Pak Jali menghunjamiku dengan ciuaman mautnya. Lama kelamaan tanagaku terkuras habis. Tubuhku menjadi lemas. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menuruti aturan mainnya Pak Jali.Perlahan-lahan cengkeraman Pak Jali mulai mengendor. Perlakuannya yang semula kasar mulai melunak dan berubah menjadi lembut. Bahkan aku mulai masuk dalam permainannya ketika dengan lembut Pak Jali mulai menggesek-gesekkan batan kejantanannya ke atas pahaku. Seketika itu kakiku terasa lemas dan lunglai. Aku tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. Namun dengan sigap, Pak Jali segera menangkap tubuhku, mengangkatnya lalu membopongku ke atas ranjang.Sesaat terlintas di wajah Pak Jali sebuah senyum kemenangan. Kemudian dengan lembut ia mulai melumat bibirku. Entah kenapa aku tidak kuasa untuk menolaknya. Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas lumatannya itu. "Nah..., begitu dong Lis! Kalau begini kan lebih enak!" kata Pak Jali senang.Aku tersenyum tersipu-sipu."Bapak benar, mungkin lebih baik saya menuruti bapak dari pertama tadi. Lagipula, sudah lama juga saya tidak mendapatkan sentuhan laki-laki"Kembali Pak Jali tersenyum senang."Trus, ngapain kamu tadi pake coba berontak, Lis?""Tadi saya cuma kaget saja. Di balik penampilan bapak yang bersahaja, kok tega-teganya bapak mencoba memperkosa saya. Tapi..., ah sudahlah! Yang pentingkan sekarang saya sudah menjadi milik Bapak!"Kembali Pak Jali mulai mencumbuku. Ciumannya mulai merambat melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku.

Kumis tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku serasa terbang ke angkasa.Ciuman dan jilatan Pak Jali terus bergerak turun. Sementara tangan kirinya meremas-remas buah dadaku, tangan kanannya tengah sibuk di pangkal pahaku membuat pilinan-pilinan yang kurasa nikmat."Oh..., Pak Jali! Jangan siksa aku seperti ini!" rengekku.Pak Jali tidak memperdulikan ucapanku. Justru ia malah menyibakkan rumput-rumput liar yang menghalangi pintu goa darbaku."Wah..., Lis! Indah sekali memiaw kamu. Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. Oh..., sungguh mempesona. Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti kamu merawatnya dengan baik. Oh..., Lis! Aku suka sekali dengan memiaw yang seperti ini...!"Perlahan-lahan Pak Jali menjulurkan lidahnya dan menyapu permukaan klitorisku. Terasa kasar, memang. Tapi nikmat!"Ayolah, Pak...! Ouhh..., aku sudah tidak tahan lagi. Aku terus mengemis kepada Pak Jali. Namun dia terus mempermainkan emosiku. Akhirnya aku mencari inisiatif lain.Aku mencoba menggerayangi tubuh kekar Pak Jali sambil mencari-cari buah terong yang menggantung di pangkal pahanya.Dan tidak susah bagiku untuk menemukan buah terong sebesar itu. Dengan lembut dan manja, aku mulai mengocok batang kont*l Pak Jali di sertai dengan pijatan-pijatan yang membuat beliau merem melek.

Perlahan aku membimbing kont*lnya menuju ke memiawku yang sudah basah. Namun dengan nakal, Pak Jali hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan ujung kepala kont*lnya di atas bibir vaginaku. Terasa geli, memeng. Tapi sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini."Oh..., Pak Jali! Ayolah....aku udah nggak tahan lagi..., cepet masukin dong!"Aku sudah tak bisa tahan diperlakukan seperti itu. Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kejantanan Pak Jali yang sudah ngaceng. Kemudian aku menekan pantat Pak Jali ke bawah supaya kont*l itu bisa masuk dengan sempurna."Aaarrrghhh...!" aku menjerit kecil ketika batang kont*l Pak Jali yang besar itu menembus liang vaginaku. Awalnya terasa seret dan perih, karena ukuran k*ntol Pak Jali memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik suamiku. Namun setelah buah terong itu tertanam beberapa saat di dalam liang vaginaku, rasa perih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.Perlahan-lahan Pak Jali mulai mengayunkan pantatnya naik dan turun."Hooohh.., Pak! Ssstt..., enak Pak!" aku jadi ngomong tak karuan."A...yo, Lis!Goyangkan ju...ga pan..tatmu! Ooohhh...!"Aku menuruti kata Pak Jali. Kucoba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan Pak Jali. Gesekan-gesekan halus antara batang kont*l Pak Jali dengan dinding vaginaku terasa begitu nikmat."Ohhh..., Lis! Ya...begitu...! Te...rus...goyangkan pantatmu! Uuuhh..., oohh..., yes...!"Pak Jali tampak begitu menikmati permainan kami. Kulihat wajahnya menengadah dengan mata terpejam, seolah meresapi sedotan dari vaginaku. Sesekali dari bibirnya terdengar lenguhan dan desisan kenikmatan.Akupun juga menikmati sodokan-sodokan mantap batang k*ntol Pak Jali. Bahkan aku memeluk tubuh kekar Pak Jali dengan erat. Seolah tak ingin berhenti dari permainan itu. Keringat mengalir deras melalui pori-pori tubuh kami, sehingga dada bidang Pak Jali yang berbulu lembut tampak mengkilat karena basah oleh keringat.

Aku tidak menyangka, ternyata di usianya yang mencapai setengah abad itu, Pak Jali masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku kewalahan menghadapi goyangan dan sodokan mautnya. Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku."Ooohh..., Pak! Saya..., mau ke..luar...!Ssshhhtt..., Arrhhhggg...!" Aku tidak kuat lagi menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam rahimku. Namun Pak Jali masih terus mengayunkan kont*lnya keluar masuk dan menusuk-nusuk goa darbaku. Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang k*ntol Pak Jali mulai berdenyut-denyut didalam vaginaku. Sampai akhirnya...."Aaaoouuhhh..., Lis! Nikmat bangeet!"Cairan putih kental menyembur deras dari ujung tongkol Pak Jali. Pak Jalipun kemudian menjatuhkan diri ke sisi tubuhku. Nafasnya tampak terengah-engah dan terlihat kecapean."Oh..., Pak Jali! Bapak memang benar-benar hebat. Sudah lama saya tidak merasakan nikmat seperti ini. Terima kasih ya Pak!" Aku memeluk tubuh Kekar Pak Jali.Kusandarkan kepalaku di dada bidang Pak Jali sambil mengelus-elus bulu-bulu lembut yang berbaris rapi sampai ke pangkal pahanya. Dengan lembut pula Pak Jali membelai rambutku yang sedikit oleh keringat. Ah..., ternyata diperkosa itu tidak selamanya tidak enak. Kali ini justru aku mengharapkannya lagi....

Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darta, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mila, yang kini jadi istrinya. Darta sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.
Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darta.”Gua jadi enggak enak nih..”
“Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada,” aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
“Ma, gua mau bisikin sesuatu..’ tiba-tiba Darta mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darta menawarkan istrinya untuk kutiduri.
“Gila lu.. Sialan..” ucapku.
“Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan..” begitulah ucap Darta dengan serius.
Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mila. Bahkan aku pun memuji Darta, bisa mendapatkan gadis secantik Mila. Selain posturnya yang tinggi, Mila memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mila.
Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mila jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mila kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mila itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.
“Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mila? Apa dia mau?” aku pun akhirnya mulai terbuka.
“Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau,” jawabnya.
“Gimana caranya?” aku penasaran.
Darta kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mila.
“Mila..! Mila..! Milaa..!” Darta memanggil istrinya.
Dan tanpa selang waktu lama, Mila ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.
“Ada apa, Bang?” tanya Mila.
“Tolong belikan rokok ke warung..!” kata Darta sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
“Baik, Bang,” Mila menerima uang itu, lalu ke luar.
Darta segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darta ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Mila yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darta mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mila kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.


Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mila yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.
“Emh.. Ah.. Uh.. Oh..” Jelas, itu suara milik Mila. “Euh.. He.. Euh..” nah kalau itu, suara Darta.
Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat. “Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss..” suara Mila membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.
Aku bisa merasakan, Mila sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.
Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mila, yang putih mulus. Darta sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mila sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darta, dan kakinya menjepit pantat Darta. Aku mulai tidak tahan.
Tiba-tiba Darta semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mila semakin menjadi-jadi.
“Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh..” Hanya itu yang keluar dari mulut Mila, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darta. Dan akhirnya.
“Agh.. Agh..!” suara Darta mengakhiri pendakian itu.
Namun tampaknya Mila belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darta, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darta sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.
Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darta tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mila dan langsung menindihnya. Tentu saja Mila terpekik kaget.
“Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!” Mila berontak. Ia sangat marah tampaknya.
“Mila, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan..” Darta yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
“Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! *******..!” Mila mendorong tubuhku.
Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mila tetap meronta. Mila berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.
Meskipun liang vagina Mila sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mila terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mila tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.
Kurasakan ada air mata yang mengalr dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mila terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mila bisa beradaptasi dengan penisku. Mila tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.
Walaupun Mila diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mila. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mila ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.
“Kau menikmatinya, sayang?” bisikku.
“Diam..!” dia membentakku. Namun aku yakin, Mila hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mila menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.
Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mila. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.
“Agh.. Agh.. Agh..” Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mila.
“Akh.. Akh.. Akh.. Ss..” begitulah yang keluar dari mulut Mila.
Lalu kemudian Mila mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.

“AAhh…ahhh…ahh….enak bu…”



Ini kisah yang terjadi di desa Kolesabano, sebuah desa kecil yang agak terpencil. Akses jalanannya tidak seperti di Jakarta sudah aspal semuanya, di sana masih tanah liat dan batu. Orang-orangnya sederhana dan lugu. Kalau pagi mereka selalu saling menyapa dan murah senyum. Rasa gotong royong pun masih kental disini. Mereka bermatapencaharian sebagai petani. Disana ada sawah dan ladang. Kebun buah-buahan pun ada banyak disini. kalau mau makan tinggal petik. Disana tidak ada sekolah, orang tidak bisa mengenyam pendiidikan. Jadi kalau ada orang pintar disini, mereka puja seperti dewa. Dr. Prasetyo adalah seorang dokter umum yang dikirim kesana untuk melayani masyarakat disana. Apa yang dikatakan olehnya pasti didengarkan dan dituruti, misalnya saja seorang dokter. Jangan dokter, lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka. Suatu hari di ruang praktek Dr. Pras yang sederhana seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi dengannya mengenai kondisi buah hatinya. Cahaya pagi yang menembus jendela kayu menunjukkan kekhawatiran di raut wajahnya. Alisnya tak henti-hentinya mengernyit setiap kali ia menceritakan keadaan anak perempuannya yang memakai jilbab warna biru sama seperti yang sedang dikenakannya. Pundak anaknya dipegani seperti seorang ibu yang takut anaknya akan lenyap kalau dilepas. “Dok, anak saya kayaknya kurang sehat beberapa hari ini.” “Oh..gimana kondisinya apakah batuk-batuk?” “Ya sedikit, nafsu makannya berkurang dok.” Dr. Pras mengangguk-angguk. “Nama kamu siapa,dik?” “Fitri, dok.” “Sudah berapa lamu kamu sakit?” “3 hari dok…gak sembuh-sembuh…dah minum teh manis.” “Pusing-pusing gak?” “Gak, dok.” “Sebelumnya ada makan apa, gak?” “Makan biasa aja dok..” “Ada jajan?” “Paling gulali.” “Hmm….” Dr. Pras tampak sedang berpkiri untuk menganalisa kondisi Fitri. “Ya udah kamu naik ke ranjang periksa yah…dokter periksa” “Iya dok…” Fitri berjalan ke ranjang periksa yang tak jauh dari situ, ia menaiki tangga kecil hingga ia bisa sampai ke atas ranjang dan tiduran. “Di angkat ya bajunya, biar dokter bisa periksa pakai stetoskop.” Fitri mengangguk dan menarik ke atas bajunya sehingga payudaranya yang masih mengkal kelihatan. Dr. Pras mulai menggunakan stetoskopnya dan mencoba mendegar detak jantungnya. Stetoskop itu di letakkan di dada dan dipindah-pindahkan di sekitar situ. Kadang ditaruh di atas putingnya Fitri. “Dingin dok…,” komentar Fitri. “Tahan dikit ya…” Saat Dr. Pras memindahkan stetoskopnya, saat diangkat kadang pinggirannya menyenggol ujung puting Fitri. Entah sengaja atau tidak, jari kelingkingnya kadang juga menoel putingnya. Si ibu tidak bisa melihat yang dilakukan Dr. Pras sebab ia berada di belakangnya. Fitri merasakan sesuatu yang aneh, dan pipinya berubah memerah. Tanpa disadari puting coklatnya menjadi mengeras mencuat. Kalau tertoel lagi, kakinya langsung mengapit seperti menahan sesuatu di bagian bawah situ. “MMmm…untuk pemeriksaan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah, saya harus melakukan tes.” “Iya dok.” Dr. Pras menarik gorden yang mengelilingi ranjang periksa. Ibu Fitri tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam. 2 menit tidak ada apa-apa. Namun setelah agak lama si ibu mulai mendengar suara-suara aneh dari dalam. Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh…”Ah..ahh…ahhhh…” Merasakan firasat buruk ia bangkit menyibak gordennya. Betapa terkejutnya saat ia melihat CD putrinya sudah turun setengah paha dan tangan Dr. Pras sudah berada di kemaluan putrinya. Saking kagetnya si ibu sampai tidak bisa bicara apa-apa. “A..a..a” “Ibu! apa yang sedang ibu lakukan, saya sedang di tengah pemeriksaan.” Si ibu tiba-tiba merasa bersalah, apakah benar ia sedang mengganggu jalannya pemeriksaan anaknya? Pikiran akal sehatnya seperti sedang terpecah saking syoknya. “Tunggu disitu yah.” Lalu si dokter menutup lagi gordennya. Tak lama suara lenguhan terdengar lag, “Mmmhh ahh.ah..ah…”. Si ibu menjadi ragu-ragu apakah sebaiknya ia membuka gorden itu atau dibiarkan saja. Tapi Lama-kelamaan bukan cuma suara putrinya, kini ia mendengar suara si dokter, “Mmhh…shh…ahh..yah..dihisap…biar lekas sembuh.” Si ibu semakin khawatir. Akhrinya dia sibak lagi gordennya. Kali kagetnya menjadi-jadi, sebab burungnya si dokter sudah keluar dari celananya dan ada di dalam mulut anaknya. “Dokter! Dokter…lagi apa…?” dengan nada agak histeris. Si ibu tidak mempercayai penglihatannya. “Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu,” Tukas Dr. Pras kesal, “Saya sudah analisa, anak ibu terkena penyakit Vibilio Facumacis, obatnya adalah ia harus dibikin orgasme dan menelan sperma. Kalau ibu ganggu terus, gak selesai loh ini. Saya gak tanggung kalau penyakitnya bertambah parah.” “Ii..iya..tapi dok….” “Hhhhhh…,” Si dokter menghela nafas panjangsambil geleng-geleng. “Ya sudah ibu bantu deh, ibu colok-colok kemaluan anak ibu untuk membangun kekebalan tubuhnya.” Si ibu terdiam dan ragu-ragu. “Ayo sini…bantu saja…gak apa-apa…daripada ganggu terus..gak selesai-selesai.” “Ii..iya…” Si ibu berjalan mendekati tempat tidur periksa. Dr. Prasetyo membelakangi si ibu itu lalu ia meraih tangannya dan meletakkan di kemaluan putrinya. “Nah…sekarang keluar masukin jarinya di lubangya yah…” “Iii…iya dok…” Si ibu pun mulai memasturbasi anaknya. Fitri langsung memejamkan mata dan melenguh-lenguh kecil, “Aah..ah…ah…” Dr Prasetyo tiba-tiba menarik ke atas gamis si ibu. Tentu saja perbuatannya membuat si ibu kaget. “Dokter ngapain lagi?!” “Ibu juga perlu dibangun kekebalannya, kalau gak penyakit ini akan menular. Jadi kemaluan ibu juga harus dimainin.” “Yang bener dok…” “Ya bener, siapa disini dokternya?” Si ibu kebingungan. “Ii..iya…” “Jangan khawatir saya tidak akan sentuh ibu, kalau itu yang ibu khawatirkan, Fitri yang akan bantu prosesnya.” “Maksudnya…?” “Fitri yang akan gituin ibu..ngerti kan…” “Hah?” “Sudah ibu tenang aja, nurut aja kalau mau sembuh yah.” Dr. Prasetyo lalu membungkuk dan memberikan penjelasan kepada Fitri. “Fitri supaya ibumu gak ketularan kamu keluar masukin jari kamu di lubangnya ibu yah…kayak yang diakukan ibu ke kamu..ok” “Iya dok…” “Pinter,” ujar Dr. Pras menepuk-nepuk kepala Fitri. Dr. Pras bangkit lagi, “Nah ibu..siap ya…saya angkat gamisnya yah…biar Fitri bisa masturbasiin ibu untuk cegah penyakit.” “II..iya dok…” Dr. Pras pun mengankat gamis si ibu hingga seperut dan menarik turun CD putihnya. Si ibu membantu memegangi kain gamisnya agar jangan jatuh. Dr. Pras sempat menelan ludah saat ia melihat paha si ibu yang semok. Gak kurus, tapi berisi. “Nah Fitri, sekarang tangannya yuk…” Fitri mengulurkan tangannya dan menjamah kemaluan ibunya. Jari tengahnnya dimasukkan ke dalam lubang ibunya perlahan, lalu ditarik lagi. “UUuhh…” Si ibu langsung memejamkan matanya dan melenguh keenakan. “Bu maafin Fitri ya, gara-gara Fitri sakit, ibu bisa ketularan juga.” Si ibu buru-buru membungkukkan badannya dan mengelus kepala putrinya “Sudah kamu gak perlu pikiran itu, yang penting sekarang Fitri keluar masukin jari lubang di lubang ibu, dan ibu colok-colok lubang Fitri yah..biar kita sama-sama sehat,” ujar si ibu menenangkan anaknya. Fitri mengangguk tersenyum. “Nah sekarang Fitri buka mulutnya AAaaa,” perintah Dr. Pras. Fitri menurut. Dr Pras kembali mengarahkan penisnya ke mulut Fitri dan memasukkannya ke dalam. “Nah, sekarang kulum batang Dokter ya…obatnya ada di dalamnya mesti dikeluarin, Ok” “Ngg..” Fitri mengiyakan dengan mulut yang tersumpal batang Dr. Pras. Dr Pras lalu memaju mundurkan pinggulnya, menikmati batangnya disepong Fitri. Ia tarik lagi ke atas bajunya Fitri, agar ia bisa melihat jelas kedua putingnya. Tngan kanannya bergerak, menjamah dan remas-remas lembut dada Fitri. Sesekali ia pelintir-pelintir putingnya. “Ngghh…nghh..,” responnya. Sementara itu tangan kirinya digunakan untuk menahan kepala Fitri yang berjilbab agar ia bisa bersenggama di mulutnya. Nafas si ibu lama kelamaan berubah menjadi tak beraturan. Gerakan jarinya di lubang putrinya pun berubah menjadi semakin cepat. “Mmhmhh..nghhh..nghh…,” lenguh Fitri Jari Fitri pun juga ikut-ikutan menusuk-nusuk vagina ibunya dengan cepat. Jari mungi itu kelihatan sudah menjadi basah. Cairan bening ada yang mulai turun mengalir dari lubang vagina si ibu ke pahanya. “Dok…remas dada saya juga dok…plis…” pinta si ibu Dr. Pras senang mendengar permintaan si ibu. “Di buka donk bajunya.” SI ibu menurut dan melepaskan bajunya dan dijatuhkan ke tanah. Kini ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan BH saja. Dr Pras berdecak kagum melihat payudara si ibu yang besar. “BH-nya…di lepas juga….,” pinta Dr. Pras dengan suara bergetar. Tanpa berpikir panjang si ibu melepaskan pengait depan BHnya dan meloloskannya talinya dari pundaknya. Lalu ia jatuhkan ke lantai. Dr. Pras jadi bernafsu banget ngeliat payudara si ibu yang mantap. Ia pun menangkupnya dari belakang punggung, melewati bawah tangannya, serta memainkan buah dada yang kenyal itu. Fitri baru kali ini ngeliat ibunya buka-bukaan seperti itu, dan baru pertama ngeliat seroang pria cemek-cemek dada ibunya. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup keras. Semuanya serba baru baginya. Si Ibu pun mulai menggapai buah zakar Dr. Pras dan mengelus-elusnya. “AAhh…” Dr. PRas merasakan kehangatan di pelernya.. “Ahh….gak kuat….ahh…keluar…keluar…” Dr. Pras memegang kepala Fitri dengan kedua tangannya dan memaju mundurkan batangnya di mulut Fitri. dengan cepat. Kumpulan sperma itu tak lama lagi akan meledak di rongga mulut gadis mungil ini. “Ke..luaaar….aaahhh ahh….” CROT CROOT CROTT CROT CRET CRET! “Ahhh….” Dr. Pras merasakan kelegaan luar biasa. Lalu ia mencabutnya dari mulut Fitri. “Ditelan yah Fitri…itu obatnya…” Fitri mengangguk. Ia teguk cairan Dr. Pras. Otot lehernya tampak berkontraksi. “PInter…” “Dokter kasih sesuatu buat kamu yah…” “Apa tuh?” Dr. Pras mendekatkan wajahnya ke wajah Fitri. Keduanya saling memandang. Lalu Dr. Pras mencium Fitri dan menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya. Si ibu membelalak… melihat Dr. Pras mencumbu putrinya dan Fitri tampak menyukai setiap deitknya. “Dokter apakah itu juga termasuk pengobatannya?” Dr. Pras menegakkan tubuhnya. “Iyah…sudah pasti dan…sekarang ibu jilat vaginanya Fitri, ya” “Lho kenapa?” “Iya…karena saliva ibu bisa menjadi bahan tambahan yang menguatkan kekebalan Fitri, seperti vitamin. Jadi jangan lupa, nanti sambil dijilat, juga diludahin sedikit yah.” “Gitu ya dok..?” “Iyah…” Si ibu memandang anaknya dengan penuh kasih sayang. “Ibu jilat yah, nak..” Fitri mengangguk. “Iya, bu terima kasih ya.” Si ibu tersenyum dan mengelus kepala anaknya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke alat kelamin putrinya. Di buka sedikit bibir vaginanya, diludahi lalu ia mulai menjilat-jilat belahan vaginanya. “AAhh…ahhh…ahh….enak bu…” Fitri yang sedang keenakan sudah lupa untuk memasturbasi ibunya. Dr. Pras tidak ingin membiarkan lubang vagina si ibu mubazir. Dr. Pras pun menarik turun gamis roknya, dan ia bisa melihat gundukan yang terbelah dari arah belakang. Ia lalu mengarahkan batangnya ke lubang si ibu. kebetulan posisinya sudah siap untuk di doggy. Tanpa meminta izin lagi, Ia langsung mendorong masuk batangnya ke dalam lubang si ibu yang sudah basah. “OOhhh…Dr. Praz…” Sebentar ia melihat ke belakang, kemudian ia mulai merasakan kenikmtan hujaman-hujaman tusukan batang si dokter. “Astaga enaknya….” Lalu ia lanjut lagi mengoral anaknya di atas ranjang periksa. Fitri yang baru kali ini mengalami rasanya di oral, tidak dapat membendung cairannya untuk keluar. “Bu…mau pipis…” “Pipis aja Fitri biar kamu sehat…” “Ahh..ahh..ahh…ibu…duh..gak tahan lagi….KYA!” Fitri menjerit histeris, saat ia mencapai orgasme. Kakinya mendorng pantatnya sampai ke udara, dan vaginanya menyemprotan cairan hingga keluar. Si ibu buru-buru berpindah untuk melihat wajah putrinya. “Ahh..ahh..dah keluar nak?” Dia menanyakan keadaan Fitri selagi sedang disodok sama Dr. Praz dari belakang. Fitri bisa meihat dari dekat, wajah ibunya yang sedang sangat keenakan. Tubuhnya bergerak-gerak maju mundur, demikian juga buah dadanya. “Ibu lagi diapain? lagi diobati juga yah?” “Mmhh ahh ahh.. iya nak..” “Fitri juga mau…diobati yang seperti ibu…” Si ibu terkejut mendengar permintaan Fitri… “Fitri….Fitri masih kecil..ahh ahh..ahh. Belum boleh diobati seperti ini.” Sementara itu dari belakang mempercepat memompa tubuh si ibu. “Ahh…ahh..ahh..ahhh…” Alis si ibu mengernyit menahan kenikmatan yang semakin memuncak. “Tapi Fitri mau….,” ucapnya menelan ludah melihat Dr. Praz menyetubuhi ibunya. Walaupun ia belum tahu itu namanya. Di dalam keadan birahi yang sangat, pikiran si ibu tampaknya semakin tertutup. Bahkan ia mulai merasa birahi terhadap putirnya. Ia menggapai lagi kemaluan Fitri. Ia colok-colok lagi dengan satu jari. Fitri agak mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ibunya lakukan di bawah situ. Ia diam saja membiarkan perbuatan ibunya. Sensai nikmat mulai menjalar dari alat kelaminnya. Kemudian dari satu jari berubah jadi dua jari. “Ohh…oh…yeaaahhh…” Tapi saat jari ketiga masuk…raut wajah Fitri berubah kesakitan. “Aw sakit bu..udah..buat keluarin jarinya…sakit…” “Tahan nak…tahan…biar ibu yang ambil keperawanan kamu yah…” Fitri bangkit dari tidurnya dan mencoba mencabut jari ibunya dari guanya. “Sakit bu…” “Tahan nakk..entar jadi enak lagi..” Si ibu menidurkan lagi putrinya, kemudian ia jilat-jilat putingnya agar ia merasa lebih nyaman. “Owwh…shh…kit…” Sedikit demi sedikit membran keperawanan Ftri pun robek oleh jemari ibunya. “AAhh sakit….” Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi enak. “Mmhhh ahh…ahh…shh….” Ketiga jari si ibu pun berbalur darah keperawan Fitri dan cairan kewanitaannya. Tiba-tiba hentakan keras penis Dr. Praz menyentuh batas klimaksnya, sehingga si ibu kelojotoan mencapai orgasme. “Aahhhh…sampai….” Ia mendorong Dr. Praz agar mencabut penisnya dari lubangnya. “Saya nanggung bu,” keluh Dr. Pras. Tanpa menanggapinya, si ibu menyuruh Fitri bangun. Fitri menuruti perintah ibunya dan ia duduk di pinggir ranjang periksa. Si ibu berbalik badan dan naik duduk di sebelahnya. “Fitri duduk di pangkuan ibu yuk.” “Iyah.” “Lepas tuh CDnya.” “Iya bu.” Setelah itu Fitri berpindah posisi duduk di atas paha ibunya. Kedua kakinya berada disisi luar kaki ibunya. Vaginanya jadi agak terbuka. Setelah itu ibunya membuka lebar kedua pahanya, sehingga kedua paha Fitri juga turut terbuka lebar, mempertontonkan lubang senggamanya. “Kamu mau diobati Dr. Pras seperti tadi kan?” Fitri memandang batang Dr. Pras yang mengacung dan gak bergerak-gerak dikit. Ia menunduk, lalu mengangguk. Si ibu memandang ke Dr. Pras, “Tolong obati anak saya juga, dok. Pakai cara yang tadi” Dada Dr. Pras bergemuruh melihat posisi ibu dan anak itu. Mereka berdua masih memakai jilbab. Si ibu sudah tidak berpakaian, Fitri masih lengkap berpakaian, tetapi semuanya sudah disibak. “Eh..iyah…sebelumnya kalan berdua ciuman dulu biar saliva kalian bercampur di mulut agar bakteri kumannya mati. Si ibu merendahkan kepalanya dan Fitri mengadahkan kepalanya ke atas menyamping. Bibir mereka bersentuhan, lalu si ibu melumat bibir putrinya. Ludahnya dipindahkan ke mulut Fitri, kemudia dengan lidahnya ia mengaduk-ngaduknya di dalam. Dr. Praz benar-benar terangsang oleh keduanya, ia pun mendekat sambil mengocok titinya. Ia naik ke anak tangga agar batangnya bisa sejajr dengan lubang Fitri. Lalu Blezzzz! Fitri membelalak saat merasakan sebuah benda besar yang panjang menerobos masuk lubang senggamanya. Ibunya saja merasa Dr. Pras gede banget, apalagi anaknya. Dr. Pras tidak bisa leluasa mengeluar masukkan batangnya, sebab seret banget, meskipun lubang Fitri sudah distimulasi sejak tadi dan basah licin. Batang Dr. Pras benar-benar tidak bisa masuk penuh, meskipun sudah berusaha didorong. Dr. Pras sampai menganga mulutnya, karena jepitannya luar biasa banget. ia yakin pertahannya tidak akan bisa lama dengan keadaan seperti ini. Ia pun mulai memaju mundurkan pantatnya dan bersetubuh dengan Fitri. “Ahh…aahh….shhh…ahhh…” Kenikmatan yang sama pun juga dirasakan Fitri. Lubangnya terasa penuh. Setiap sensor di kemaluannya mendapatkan gesekan penuh dari bendanya Dr. Pras. Apalagi ini pengalaman pertamanya. “Dr…dr…dr…Praz….shhh…ahh..” Si ibu pun membuat anaknya makin gak kuasa menahan nikmatnya seks. Tangannya meraba-raba dan memainkan buah dadanya. Fitri sudah benar-benar pasrah ia bisa meraskan gelombang klimaks bentar lagi datang. Sesaat ia hendak mencapai orgasme, tiba-tiba… “AKh…keluar.! Dr. keluar!” Fitri bisa merasakan cairan panas menyembur di lubangnya. Di saat itu juga ia mencapai orgasme. Srrr…Sr…srrr….srr.. “Dr. Aku pipis lagi….” “Ya bagus itu…” Keduanya mencapai klimaks bersamaan. Tak berapa lama setelah itu, kedua nya berpakaian lagi yang lengkap. Mereka kembali ke meja. “Ok…kalian berdua sudah diberi obat dan disuntik kekebalan, kalau masih belum sembuh datang lagi untuk diadakan pemeriksaan.” “Baik, dok, terima kasih ya. Ayo Fitri bilang apa ke Dr.” “Terima kasih dok.” “Iya…lekas sembuh ya…” “Ngg!..iya” Ternyata beberapa hari kemudian Fitri telah kembali menjadi sehat. Kehebatan pengobatan Dr. Prasetyo pun semakin terkenal di antara para wanita. Sementara untuk si ibu itu dan anaknya, mereka berdua pun jadi sering mencolok-colok vagina mereka satu sama lain, untuk meningkatkan kekebalan tubuh merka dan tetap sehat .

“Ouhhhh….Mbak Yulia……” Memekmu Enaaak..,,

Mmmfff…enak kan Mbak ….nnghhh…” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan jari tangannya keluar masuk lubang memek wanita berjilbab lebar ini dengan napas terengah-engah. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Yulia, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita berjilbab lebar yang alim ini menggigit bibirnya.
Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini kembali menyusup ke balik baju panjangnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka..


Yulia adalah seorang ibu rumah tangga bermuka cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 25 tahun. Wanita cantik ini terlihat alim dengan jilbab lebar serta jubah panjang dan kaus kaki sebagai ciri Muslimah yang taat, apabila dia keluar rumah atau bertemu laki-laki yang bukan mahromnya. Dalam kehidupan seharinya wanita berjilbab ini bekerja sebagai karyawan counter HP yang cukup ternama di Karanganyar. Karena kesibukannya mengurus rumah tangganya, maka Yulia memohon agar ditempatkan di tawangmangu yang notabene dekat dengan rumahnya. Dalam counter TZN ditawangmangu tersebut hanya dikelola oleh Yulia dan 2 orang laki-laki rekan kerjanya.

Pagi hari sekitar pukul 8.00 pagi, suasana counter TZN ditawangmangu sangat sepi, tidak seperti hari biasanya banyak yang beli pulsa atau transaksi jual beli HP. Dengan jilbab putih yang lebar warna putih, serta pakaian panjang sampai diatas lutut berwarna biru dipadu dengan celana panjang warna hitam serta kaus kaki berwarna krem membuat Yulia tampak sangat cantik dan alim. Kebetulan hari itu Yulia tidak memakai jubah yang biasa dikenakannya. Yulia duduk dibelakang etalase bersama teman laki-lakinya yang bernama Ronny karena kebetulan hari itu jatahnya temannya yang bernama nanang libur. Ronny sudah beristri yang juga berjilbab yangditempatkan di TZN pusat di karanganyar.
Pagi itu suasana counter TZN tawangmangu memang sangat sepi. Belum ada satupun pelanggan yang beli pulsa atau sekedar melihat-lihat HP baru.

Sebentar kemudian Nampak mendung tebal bergayut diatas kota kecamatan yang terletak dilereng lawu tersebut. Jarum jam menunjukkan jam 8.30 pagi, tiba-tiba saja terlihat kilat disertai Guntur kemudian disusul hujan yang lebat. Air hujan bagai tercurah dari langit diatas bumi tawangmangu. Suasana tersebut menambah sepi suasana counter tersebut, karena jam segitu adalah jam kerja dan jam sekolah. Sementara orang yang tidak beraktifitasmenjadi malas keluar karena hujan deras.

Tak sengaja Yulia menoleh kesamping, Ups..hati Yulia tergetar ketika menyadari Ronny ternyata juga sedang memperhatikanya.Laki-laki tersebut terlihat gugup ketika mata Yulia memergokinya. Segera aja dia membuang muka, di mata Yulia Ronny terlihat cukup baik dan santun, usianya mungkin sekitar 29 tahunan. Yulia hanya tersenyum melihat kegugupannya.

“Malah hujan mas?’ Yulia mengawali pembicaraan.
Ronny menoleh dan tersenyum,lantas mengangguk. Entah mengapa kemudian Yulia menjadi sangat akrab dengan teman kerjanya tersebut,padahal Yulia bukan seorang wanita yang mudah akrab dengan laki-laki lain.

Dalam perbincangan itu,entah mengapa diam-diam Yulia membandingkan Ronny dengan suaminya. Yulia melihat badannya lebih tinggi dibanding dengan suaminya, Ronny lebih atletis dan tegap. Dengan dada berdesir,Yulia akhirnya menyadari kalau muka Ronny mirip sekali dengan suaminya. Wanita berusia 25 tahun ini bagaikan lupa keadaan dirinya ketika berbincang kian akrab dengan Ronny. Ketika berulangkali laki – laki ini memuji kecantikan mukanya, Yulia menjadi salah tingkah. Ibu rumah tangga yang aktif ikut pengajian salah satu ormas besar disolo ini merasa tersanjung dengan pujian laki-laki tersebut.
“Ah mas Ronny..”desis Yulia dengan muka terasa panas mendengar pujian itu walaupun dalam hati Yulia merasa senang.
“Bener kok mbak..mbak begitu cantik, manis apalagi pakai jilbab seperti ini,jadi kian anggun beruntung deh yang jadi suami Mbak..”kata Ronny seraya lekat memandang muka wanita berjilbab lebar ini.

“Aihh..mas Ronny..udah..udah”seru Yulia gemas,dan tanpa sadar jemari wanita berjilbab ini mencubit lengannya yang membuat Ronny meringis.
Namun sesaat Yulia kemudian tersadar,kalau dia adalah seorang wanita bersuami, apalagi dia adalah seorang wanita muslimah yang mengenakan jilbab. Muka Yulia terasa memanas ketika wanita berjilbab ini melihat Ronny tersenyum-senyum setelah dicubit.
“Jari mbak Yulia…halus..lentik..”desisnya sambil tersenyum, namun ibu muda satu anak ini tak lagi menanggapinya. Yulia mulai merasa dia mendapat pengaruh aneh dari laki – laki di sampingya itu, sehingga dia begitu mudahnya akrab dengannya, atau mungkin kemiripan muka Ronny dengan suaminya yang membuat Yulia bagaikan hanyut.

Pukul 9.30 pagi menjelang siang, suasana counter HP TZN dan sekitarnya semakin sepi. Hujan begitu deras di luar counter menimbulkan suara deru yang cukup keras. Wanita berjilbab ini melihat jalan raya tawangmangu yang menjadi sepi kecuali mobil yang berseliweran. Yulia melirik ke sebelah, Yulia kembali terhanyut muka rekan kerjanya yang mirip sekali dengan suaminya. Baru sejenak pikiran Yulia menerawang, mendadak wanita berjilbab ini dikejutkan oleh elusan yang merayap di pahanya. Yulia bagai tersengat arus listrik karena terkejutnya, namun sedetik kemudian Wanita berjilbab lebar ini membeku bagaikan menjadi patung es, ketika menyadari tangan yang merayap dipahanya adalah tangan laki – laki di sampingnya. Badan wanita muda ini menjadi kejang ketika tangan kanan Ronny mengelus perlahan pahanya yang masih tertutup baju dan celana panjang warna hitam yang dikenakannya. Entah kenapa, Yulia hanya mampu menggigit bibir ketika tangan Ronny mulai nakal melepas kancing baju yang dikenakannya pada bagian dada, ,sehingga beberapa kancing baju yang dikenakan ibu muda berjilbab inipun terlepas bagian dadanya.

Badan Yulia kian menggigil,ketika tangan Ronny mulai menyusup di balik baju yang kenakannya. Perlahan wanita berjilbab ini merasakan tangan laki – laki itu mengelus dan meremas buah dadanya beberapa kali. Lantas wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan laki – laki ini baju bagian bawahnya kemudian bergerak mengelus bagian bawah perutnya. Sesaat kemudian kedua tangan Ronny membuka pengait celana panjang yang dikenakan oleh Yulia dan membuka restling celananya sekaligus kemudian mulai mengelus elus bagian selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam warna putih.

Ingin rasanya Yulia menepis tangan laki-laki kurang ajar yang tengah menggerayangi daerah terlarang miliknya itu,namun entah mengapa semuanya terasa beku, badannya hanya mampu menggigil menahan birahi ketika tangan Ronny mengelus-elus selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam hingga ke duburnya..beberapa kali Yulia merasakan kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam itu dielus- elus tangan Ronny dan diremas-remasnya lembut.Tanpa sadar Yulia justru membuka kedua pahanya kian lebar sehingga tangan Ronny kian leluasa menggerayangi kemaluannya beberapa saat.
Yulia mulai mendesah perlahan, ketika tangan Ronny terasa menyusup ke balik celana dalam yang dikenakannya lantas menarik-narik rambut kemaluannya yang tumbuh lebat tak tercukur. Jemari tangan Ronny menyusuri gundukan bukit kemaluan wanita berjilbab ini kian ke bawah hingga sampai celah lubang memeknya. Wanita berjilbab lebar ini nyaris histeris menahan nikmat ketika bibir lubang memeknya itu diusap pelan oleh jemari tangan Ronny. Rasa birahi ternyata telah membutakan kenyataan bahwa tangan laki-laki yang tengah menyentuh kemaluannya bukanlah suaminya.

Yulia mulai menggelinjang saat jemari tangan Ronny mengelus-elus perlahan bibir kemaluannya beberapa
saat lantas wanita berjilbab ini merasakan bibir kemaluannya itu dibuka dan jemari tangan Ronny pun segera melesak ke dalam lubang memek yang telah mengeluarkan satu orang anak tersebut. Badan Yulia gemetaran dan mulutnya mendesah saat kemudian kelentit dalam kemaluannya disentuh oleh jemari tangan Ronny lantas dipilinnya lembut membuat wanita berjilbab lebar ini nyaris terlonjak dari tempat duduknya.
“Ohh..aahhhh…mmhhh…enghhh..sshhh”‘desah Yulia lirih dengan badan menggelinjang, menahan nikmat di daerah selangkangannya.
Yulia tak lagi menghiraukan keadaan counter yang pintunya terbuka lebar apabila tiba-tiba ada pelanggan yang masuk. Yang dirasakan wanita berjilbab lebar ini adalah kenikmatan yang menjalar ke
sekujur badannya, oleh jemari tangan Ronny di lubang memeknya.
“Ahh..sshh…mas Ronnya..jangaaan”rintih Yulia lirih namun terasa nikmat luar biasa.
Badannya menggelinjang di kursi counter yang kecil tersebut. Untunglah hujan begitu deras, sehingga desahan dan rintihan wanita berjilbab ini tertelan gemuruh oleh hujan di luar.
Sembari menggeliat menahan kenikmatan yang dirasakannnya, mata Yulia
melirik ke muka Ronny. Namun betapa terkejutnya Yulia ketika melihat ternyata laki – laki ini sedang tersenyum-senyum memandangnya penuh birahi dengan nafas yang memburu.

“Mas Ronny!!”pekik Yulia lirih karena kaget.
”jangaan..ohhh..mas Ronny..jangaan” Namun Ronny tak menghiraukan pekikan wanita berjilbab lebar ini. Wanita ini merasakan jari-jari tangan Ronny kian dalam memasuki lubang memeknya. Yulia menjadi semakin kian gila,ketika dirasakannya jari-jari tangan Ronny menyentuh dinding lubang memeknya itu. Rasa nikmat yang luar biasa terasa di sekujur badan Wanita berjilbab lebar ini yang membuatnya kian tersengal. Yulia merasakan bagian terlarangnya kian berdenyut- denyut seiring gerakan pinggulnya yang menggeliat penuh nikmat.

“ohh ..jangaaaan… jangaan..mas…”desah Yulia lirih.
Wanita berjilbab lebar ini masih menyadari bahwa dia berada di counter yang pintunya terbuka lebar sehingga Yulia khawatir jika tiba-tiba ada pelanggan yang masuk meskipun diluar hujan justru bertambah deras. Namun derasnya hujan dan posisi tempat duduk mereka yang tertutup oleh etalase HP , membuat kekurang ajaran Ronny ini leluasa dinikmatinya. Wanita berjilbab lebar ini hanya pasrah dalam kenikmatan, ketika bagian terlarangnya itu diobok-obok Ronny dengan tangannya. Mata wanita berjilbab ini merem melek menahan kenikmatan yang luar biasa pada kemaluannya itu. Hanya desahan lirih penuh nikmat dan gelinjangan badan yang kian liar di atas kursi kecil dalam counter tersebut, Yulia hampir mencapai puncak kenikmatannya , ketika mendadak sebuah sepeda motor yang parkir didepan counterTZN. Kemudian Nampak seorang pemuda melepas jas hujan kemudian masuk kedalam counter nya.
“monggo mas…” ujar Yulia dalam bahasa jawa ketika pemuda tersebut masuk kedalam counter.
Sementara Ronny bergeser ke belakang lemari kasir yang tertutup kaca tinggi, membersihkan jari tangannya yang penuh lendir kewanitaan Yulia setelah hampir 30 menit lebih mengobok obok kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut.

“Pulsa mbak, XL 5000” Jawab pemuda tersebut sambil memandang aneh muka Yulia karena masih membayang diraut muka wanita berjilbab lebar ini seperti habis menahan perasaan sesuatu.
“oh ya ini silahkan ditulis nomornya mas” Balas Yulia sambil meraih HP server pengisi pulsa.
Beberapa saat kemudian pemuda tersebut minta diri setelah membayar pulsa yang dibelinya , sementara hujan diluar masih tercurah dari langit justru semakin deras. Bahkan beberapa saat kemudian jalan raya tawangmangu tersebut tergenang oleh banjir akibat curah hujan yang cukup deras. Yulia berniat untuk duduk dikursi semula ketika tiba-tiba kedua tangan Ronny melingkar dipinggang wanita berjilbab lebar ini.
“Udah mas… malu nanti jika ada pembeli masuk secara tiba-tiba” Ujar Yulia sembari tangannya mencoba melepas tangan Ronny yang melingkari pinggangnya.
“Gak usah khawatir mbak, hujannya tambah deras kok. Orang males akan keluar, mending kita menikmati hari ini dengan puas mumpung ada kesempatan mbak” Balas Ronny sambil menarik badan Yulia agak ke belakang etalase.
“mas … jangaan” desah Yulia ketika Ronny mengajaknya duduk dilantai bawah yang beralaskan karpet warna hijau.

Yulia pun akhirnya menyerah ketika Ronny membantunya duduk dengan kedua kaki diselonjorkan dengan posisi mengangkang sedikit ditekuk pada lututnya sementara kepala dan badan Yulia bersandar pada etalase yang agak tinggi.. Ronny kemudian menarik celana panjang yang dikenakan Yulia hingga terlepas, sehingga kelihatan kemaluan yang masih tertutup celana dalam serta paha mulus dan kaki wanita berjilbab lebar ini.
“Aih .. masss..jangann ..!!”jerit Yulia spontan ketika celana panjangnya dilepas oleh Ronny. Badan Yulia menggigil melihat rekan kerjanya tersebut mulai mengelus-elus kemaluannya yang terbungkus celana dalam.
“mas.. bagaimana nanti jika ada yang datang..malu…” Desah wanita berjilbab lebar ini ketika menyaksikan tangan Ronny melepas celana dalamnya. Beberapa saat kemudian Ronny tersenyum lebar menyaksikan kemaluan rekan kerja wanitanya yang berjilbab tersebut terpampang bebas memamerkan bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

Ronny kemudian menggeser duduknya bersandar lemari kasir yang besar dan tinggi, kemudian menarik badan Yulia yang sudah telanjang bagian bawahnya. Diletakkannya badan Yulia disela kedua kakinya yang terjulur terbuka, sehingga pantat Yulia melekat pada selangkangan Ronny. Yulia pun pasrah apa yang dilakukan oleh rekan kerjanya tersebut, disandarkan kepalanya di dada Ronny sementara tangannya bertumpu pada paha Ronny yang mengangkangi pantatnya.
“Mas…” desah Yulia ketika sesaat kemudian,Badan ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika kemudian dia merasakan, tangan kiri Ronny itu menyusup ke balik jilbab lebarnya,meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup BH. Lantas salah satu tangan Ronny turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya yang telah terbuka.

“Jangaan.. mas Ronnya..”desah Yulia dengan cemas dan khawatir jika ada pembeli yang datang. Namun laki- laki ini tak perduli, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 25 tahun ini. Yulia menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan
suaminya ini dalam posisi duduk membelakangi laki-laki itu.

“Jangaan.. mas Ronnya….sebentar lagi hujan reda..” desah Yulia masih dengan muka cemas.
Ronny terpengaruh dengan kata-kata Yulia, diliriknya suasana didepan counter. Memang hujan mulai surut tidak sederas satu setengah jam yang lalu. Yulia menggigil dengan badan kejang ketika kemudian wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan lelaki rekan kerjanya itu semakin dalam mengobok obok lubang memeknya. selama ini memang Ronny selalu melihat Yulia dalam keadaan memakai pakaian panjang tertutup rapat dan jilbab yang lebar, namun Ronny dapat membayangkan kesintalan badan wanita ini melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan kemontokan pantatnya yang terlihat. Ronny tidak menyangka kalau bagian badan Yulia yang selama ini tersembunyi, pagi ini dapat dinikmatinya. Celana panjang dan celana dalam yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di disamping etalase. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya yang cukup lebat. Ronny kagum melihat kemaluan Yulia yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.

“Jangaan..mass..hentikaaan… “ pinta Yulia dengan suara bergetar menahan nikmat , ketika wanita alim ini merasakan tangan Ronny meremas-remas bongkahan pantatnya yang telanjang. Mulut Yulia mulai merintih dan badan ibu muda berjilbab ini mengejang ketika wanita ini merasakan tangan kanan rekan kerjanya tersebut mengelus-elus dan menelusuri celah di pangkal pahanya. Dengan bernafsu Ronny menguakkan bibir kemaluan Yulia yang berwarna merah jambu dan lembab. Badan wanita berjilbab lebar ini mengejang hebat saat tangan kanan lelaki itu menyeruak ke lubang memeknya. Badannya bergetar ketika jari tangan laki-laki tersebut menyentuh klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 25 tahun ini tak kuasa menahan erangannya ketika tangan lelaki itu menyentuh dan mengorek-orek klitorisnya,dan menit-menit selanjutnya Yulia semakin mengerang jalang .

“Hmmm…, bagaimana Mbak Yulia….enak kan..” kata Ronny itu sambil terus menusuk-nusukkan jarinya kedalam kemaluan wanita berjilbab lebar rekan kerjanya tersebut.

“Mmmfff…enak kan Mbak ….nnghhh…” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan jari tangannya keluar masuk lubang memek wanita berjilbab lebar ini dengan napas terengah-engah. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Yulia, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita berjilbab lebar yang alim ini menggigit bibirnya.
Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini kembali menyusup ke balik baju panjangnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka.

“Ayo Mbak Yulia….ahhhh… …nikmati…oohhhh….nikmat sekali kan….?” Ronny terus menggerakkan jari tangannya yang terjepit lubang memek wanita muda yang alim ini.
Yulia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa nikmat dan malu. Tapi ia tak mampu, Yulia mendesah dan mengerang dengan badan menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab lebar ini menjerit tertahan saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang cair kental menyembur keluar dari dalam rahimnya sehingga meleleh melalui lubang memeknya dan menetesi karpet dibawahnya.Badan Yulia langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya terus mengaduk lubang memeknya dengan jari tangannya. Yulia kembali mendesah, saat perlahan Ronny menarik keluar jari tangannya yang digunakan mengobok-obok kemaluan wanita berjilbab lebar ini.

Sesaat kemudian Ronny berdiri dan berjalan keluar untuk melihat suasana, ternyata hujan kembali deras mengguyur tawangmangu. Jalanan masih banjir , sementara jam menunjukkan pukul 11.45.
“Mbak kita istirahat bentar, kemudian makan trus sholat kemudian nanti kita lanjutkan lagi. Mumpung sepi dan hujan deras mbak, jadi gak ada yang mengganggu.” Ujar Ronny sambil tersenyum.
“Lanjutkan apa mas…?” Tanya Yulia tergagap
“He..he… saya kan belum merasakan nikmatnya kemaluan saya menyodok kemaluanmu mbak, tanggung mbak mumpung ada kesempatan…” kata Ronny sambil meremas remas buah dada Yulia, sementara Yulia menjadi bingung.

“Nanti kita melakukannya di kamar belakang itu aja mbak..” kata Ronny sambil menunjuk kamar kecil dibelakang etalase yang hanya muat untuk tidur 2 orang tersebut. Kamar tersebut sebenarnya digunakan untuk sholat dan tidur nanang dimalam hari jika tidak libur.

Yulia pun hanya bisa pasrah, sesaat kemudian Yulia keluar counter seperti biasa untuk beli makan siang para pegawai counter. Sementara Yulia pergi, Ronny segera menyiapkan minuman yang sudah ditaburi obat perangsang sex. Sepuluh menit kemudian Yulia kembali ke counter membawa 2 bungkus nasi. Mereka berdua pun segera makan, kemudian bergantian sholat dzuhur.

Hujan masih turun justru semakin deras seolah memberi kesempatan laki laki dan ibu muda berjilbab tersebut untuk melanjutkan perselingkuhan. Setelah sholat Ronny menengok keluar memastikan suasana aman dan mendukung, karena Ronny berniat menikmati badan montok rekan kerjanya tersebut sampai puas. Setelah merasa aman Ronny masuk dan melihat Yulia sedang menghitung stok vhoucer, tanpa berkata sepatah katapun Ronny langsung memeluk Yulia dari belakang.
Badan ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika kemudian dia merasakan,kedua tangan Ronny itu menyusup ke balik jilbab lebarnya,meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup baju
dan bra. Lantas salah satu tangan lalu turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya dari luar baju panjang yang dipakainya.

“Masss.. ahh,,hh..”desah Yulia sambil menghentikan pekerjaannya menghitung stok voucher.
Ronny tersenyum, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 25 tahun ini. Yulia menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan
suaminya ini dalam posisi berdiri membelakangi laki-laki itu.

“Aahhh.. enghh….mmhh.. .ohhh” desah Yulia merasakan kenikmatan pada kemaluan dan buah dadanya .
Ronny berlutut di belakang pantat Yulia, sementara kedua tangan Yulia berpegangan pada lemari khusus kasir tersebut. Yulia menggigil dengan badan kejang ketika kemudian wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan lelaki rekan kerjanya itu menarik turun celana panjang sekaligus celana dalamnya. Badan Yulia gemetar oleh rasa malu dan nikmat ketika tanpa diduganya, Ronny menyingkap bagian bawah baju birunya ke atas sampai ke pinggang. Ibu muda berjilbab lebar ini terpekik dengan muka yang merah padam ketika menyadari bagian bawah badannya kini telanjang bulat karena dirinya sudah tidak memakai celana dalam lagi. Ronny kembali merasa takjub melihat istri rekan kerjanya ini dalam keadaan telanjang bagian bawah badannya. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat kemulusan badan Yulia yang selalu dilihatnya dalam keadaan berpakaian rapat. Pertama kali Ronny melihat Yulia, laki-laki ini memang sudah tergetar dengan kecantikan muka wanita berkulit putih ini walaupun sebenarnya Ronny juga sudah beristri, tapi apabila dibandingkan
dengan Yulia muka istrinya tidak ada apa-apanya.

Namun kealiman wanita yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang lebar membuatnya merasa segan juga disamping Yulia adalah istri teman
pemilik TZN. Tetapi seringkalinya dia bertemu membuat Ronny semakin terpikat dengan kecantikan
wanita berjilbab lebar ini. selama ini memang Ronny selalu melihat Yulia dalam keadaan memakai pakaian panjang dan jilbab yang lebar, namun Ronny dapat membayangkan kesintalan badan wanita ini
melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan kemontokan pantatnya yang terlihat. Ronny tidak menyangka kalau bagian badan Yulia yang selama ini tersembunyi, hari ini dapat dinikmatinya.
Muka Yulia merah padam ketika diliriknya, mata Ronny masih melotot melihatnya yang setengah telanjang. Celana dalam dan celana panjang yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di bawah
kakinya setelah ditarik turun oleh Ronny. Bentuk pinggul dan pantat wanita alim yang sintal ini sangat jelas terlihat oleh Ronny. Belahan pantat Yulia yang telanjang terlihat sangat bulat, padat serta
putih mulus tak bercacat membuat birahi laki-laki yang telah menggelegak sedari tadi kian menggelegak. Diantara belahan pantat Yulia terlihat belahan bibir kemaluan wanita rekan kerjanya yang kemerahan terlihat menggiurkan.

“Mbak Yulia..Kakimu direnggangkan. Aku ingin melihat memekmu lagi …” desis Ronny sambil berjongkok menahan birahinya melihat bagian kehormatan wanita rekan kerjanya.
Wanita berjilbab lebar ini pasrah, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, lelaki itu menyaksikan pemandangan indah menakjubkan. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya yang cukup lebat namun terlihat rapi. Ronny kagum melihat kemaluan Yulia yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.

“Masss..ohhh..emmmhh…sudah mas… “ pinta Yulia dengan suara bergetar menahan nikmat, ketika wanita alim ini merasakan tangan Ronny meremas-remas bongkahan pantatnya yang telanjang.
Namun Ronny seolah tak mendengarnya justru tangan lelaki itu menguakkan bongkahan pantat Yulia lantas mendekatkan mukanya menciumi pantat mulus yang montok itu. Yulia menggeliat ketika lidah Ronny mulai menyentuh anusnya. Mulut Yulia mulai merintih dan badan ibu muda berjilbab ini
mengejang ketika wanita ini merasakan lidah lelaki itu menyusuri belahan pantatnya lantas menyusuri celah di pangkal pahanya. Dengan bernafsu Ronny menguakkan bibir kemaluan Yulia yang berwarna merah jambu dan lembab. Badan wanita berjilbab lebar ini mengejang hebat saat lidah lelaki
itu menyeruak ke lubang memeknya. Badannya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 25 tahun ini tak kuasa menahan erangannya ketika bibir lelaki itu mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya, dan menit-menit selanjutnya Yulia semkin mengerang jalang oleh birahi ketika Ronny seakan mengunyah- ngunyah kemaluannya. Seumur hidupnya, Yulia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya.
“Hmmm…, nikmat sekali kan Mbak Yulia….?” kata Ronny sambil berdiri setelah puas menyantap kemaluan istri wanita berjilbab lebar tersebut. Sementara itu tangan kirinya terus mengucek-ngucek kelamin wanita berjilbab lebar tersebut.

“Aihhhh…eungghhhh….” Yulia mengerang dengan mata mendelik, ketika beberapa saat kemudian sesuatu yang besar,panjang dan hangat mulai menusuk kemaluannya melalui belakang.
Badan wanita berjilbab ini mengejang ketika menyadari kemaluannya tengah dimasuki ****** Ronny sementara wanita berjilbab lebar ini hanya bisa pasrah. Hingga sekejap kemudian Yulia merasakan batang ****** Ronny yang jauh lebih besar dan panjang di banding milik suaminya, telah bersarang di lubang memeknya hingga menyentuh rahimnya. Badan Yulia hanya mampu menggelinjang ketika Ronny mulai menggerakan kontolnya dalam jepitan kemaluannya.

“Mmmfff…enak juga bersebadan sambil berdiri….nnghhh…oohhh ” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah.
Yulia dapat merasakan ****** Ronny yang kini tengah menusuk-nusuk lubang memeknya, jauh lebih besar dan panjang dibanding ****** suaminya. Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar
kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik bajunya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka.

“Ayo Mbak Yulia….ahhhh… …nikmati…ahh….nikmati….” Ronny itu terus memaju mundurkan kontolnya yang terjepit lubang memek wanita muda yang alim ini. Yulia memejamkan matanya, menikmati terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa nikmat dan malu. Yulia mendesah dan mengerang dengan badan menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab lebar
ini menjerit saat ia meraih puncak kenikmatan. Badan Yulia langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya
selangkah lagi sampai ke puncak. Ronny terus mengaduk lubang memek Yulia dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan kontolnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini. Kedua tangannya mencengkeram payudara Yulia yang padat dan montok dengan
kuat. Sesaat kemudian Ronny menyingkap dan melepas semua kancing baju yang dikenakan Yulia hingga terlihat bra yang dikenakan Yulia, kemudian kembali diremas-remasnya buah dada yang ranum tersebut hingga Yulia meintih-rintih dan mendesah.
“Ohhh …mmhhh …enghhh”desah Yulia ketika sekali cairan kemaluannya menyembur menyiram ****** Ronny yang sedang mengaduk aduk kemaluannya.

Yulia yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam lubang memeknya gantian disembur cairan hangat mani dari ****** Ronny yang terasa banyak membanjiri lubang lubang memeknya. Yulia kembali merintih, saat perlahan Ronny menarik keluar kontolnya yang lunglai.
Sementara hujan diluar turun semakin deras disertai dengan Guntur.
Rupanya Ronny belum puas setelah menyebadani badan montok wanita berjilbab lebar yang menjadi rekan kerjanya tersebut. Sesaat kemudian Ronny meremas remas buah dada Yulia yang menegang seperti dua buah gunung kembar.

“mas sudah mas… aku lelah banget” pinta Yulia sambil menoleh kebelakang
“satu ronde lagi aja mbak… tanggung nih..” kata Ronny sambil meremas buah dada wanita berjilbab lebar tersebut. Kemudian sambil terus meremas remas buah dada Yulia dari belakang, Ronny mengajak Yulia berjalan ke kamar belakang tanpa memperhatikan celana panjang dan celana dalam milik Yulia yang masih teronggok di samping lemari kasir. Setelah sampai di kamar belakang etalase tersebut, Ronny menelentangkan Yulia dalam keadaan hanya memakai jilbab lebar warna putih dan baju panjang warna biru yang sudah terbuka hampir semua kancing bajunya. Sekejap kemudian tangan Ronny terulur kembali meremas-remas kedua susu mengkal milik wanita berjilbab lebar tersebut.

Tanpa membuang waktu Ronny kemudian melucuti baju panjang dan BH yang dipakai Yulia sekaligus. Mata Ronny melotot buas ketika memperhatikan lubang memek Yulia yang tampak membukit. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol membuat ****** Ronny terasa kian keras menegang oleh birahi dan Ronny tak tahan mengulurkan tangannya meremas-remas bukit kemaluan yang montok milik Yulia. Yulia tersentak ketika tangan Ronny meremas-remas bagian selangkangannya yang masih berlepotan cairan kewanitaannya, namun pengaruh obat perangsang sex yang diminumnya membuat wanita berjilbab lebar ini hanya bisa mendesah.

Badan ibu muda yang alim ini hanya menggeliat-geliat saat selangkangannya diremas remas oleh tangan Ronny tanpa jemu. Mulutnya mendesah-desah dengan ekspresi yang membuat libido Ronny kembali semakin terangsang. Ronny terkekeh melihat gelinjangan ibu muda berjilbab yang alim ini saat bagian selangkangannya diremas remas-remas. Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut, mata Ronny kembali memandang wanita berjilbab lebar ini yang terlentang di atas kasur ini dari ujung
kepalanya yang masih terbalut jilbab hingga ke kakinya.

Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan muncul sebuah sensasi sendiri saat Ronny berhasil melihat bagain kemaluan wanita berjilbab lebar yang cantik seperti Yulia. Tangan Ronny memang telah merasakan kekenyalan bukit kemaluan Yulia, saat meremas-remas sebelumnya.
Tetapi ketika melihat bentuknya pada saat terlentang dalam keadaan telanjang ternyata sangat merangsang birahi. Ronny memperhatikan muka Yulia yang terlentang di depannya, muka ayu berbalut jilbab lebar itu terlihat semakin ayu menggemaskan.

Muka wanita berjilbab lebar tersebut memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Ronny menyeringai sejenak sebelum kemudian membenamkan mukanya di tengah
selangkangan Yulia yang terasa hangat. Hidungnya mencium bau kewanitaan Yulia yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya dibanding bau kewanitaan istrinya. Ronny semakin mendekatkan mukanya ke
arah bukit kemaluan Yulia, bahkan hidungnya telah menyentuh kelentit pada kemaluan Yulia. Dengan nafas yang terengah-engah menahan birahi, lidahnya terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut. Saat lidahnya mulai menyapu kelentit Yulia, tiba-tiba pinggul wanita berjilbab ini menggelinjang dibarengi desahan ibu muda berjilbab ini.

“Ahh…ahhhhh..ahhh”desah Yulia yang membuat libido Ronny semakin menggelegak.
Ronny semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan Yulia yang semakin becek oleh cairan kemaluannya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kemaluan Yulia atau bibir Ronny menciumnya dengan penuh nafsu, wanita berjilbab berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah- desah penuh birahi. Lidah dan bibir Ronny seakan berebut merambah sekujur permukaan bukit kemaluan Yulia .
“Ouhhhh….Mbak Yulia……”desis Ronny melihat gundukan bukit kemaluan Yulia yang kini tak lagi tertutup celana dalam tersebut.

Bibir kemaluan Yulia terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya.
Bulu-bulu kemaluan yang lebat, tampak kontras dengan putihnya bukit kemaluan wanita berjilbab tersebut. Ronny melihat kemaluan Yulia sudah basah oleh rangsangan sebelumnya, bahkan ketika Ronny menguakkan bibir kemaluan wanita PKS ini cairan kenikmatan nya jatuh menetes membasahi kasur. Ronny menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan birahi yang kian menggelegak lidah Ronny menyapu kemaluan telanjang di antara paha wanita alim ini. Ronny merasa paha Yulia bergetar lembut ketika lidahnya mulai menjalar mendekati selangkangan wanita berjilbab lebar ini. Yulia menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah Ronny sampai di pinggir bibir kemaluannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Ronny menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah becek kemaluan yang
memang telah basah itu.

Terengah-engah Yulia mencengkeram kasur menahan nikmat yang tiada tara. Yulia menggelinjang hebat ketika lidah dan bibir Ronny menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita berjilbab ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Ronny terjulur masuk menjilati bagian dalam kemaluannya. Bahkan ketika lidah Ronny menyapu kelentit Yulia yang telah mengeras itu, kemudian di teruskan dengan menghisapnya dengan lembut Yulia merintih hebat. Badannya mengejang sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya yang montok membusung.

“Ahhhhh….ahhhhhh….ahhhhh”rintih Mbak Yulia dengan jalangnya disertai badan yang menggelinjang.
Kembali cairan kenikmatan membasahi kemaluan wanita berjilbab ini, hal ini lidah dan bibir Ronny makin liar menjilati di daerah paling pribadi milik Yulia yang kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemerah- merahan itu menjadi berkilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan wanita berjilbab ini pun menjadi basuh kuyup oleh jilatan Ronny. Lidah Ronny menyusuri belahan kemaluan yang telah membengkak lantas ke sekujur permukaan kemaluan yang membukit
montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah hingga ke belahan pantat yang tampak montok.

Ronny menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Yulia yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu Ronny membalikkan badan wanita berjilbab yang terlentang menjadi tengkurap. Mata Ronny melotot liar melihat pemandangan indah setelah wanita berjilbab lebar tersebut tengkurap. Pantat wanita berjilbab yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan. Ronny terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar
Yulia yang putih mulus itu. Dengan gemas Ronny meremas-remas bukit pantat wanita alim tersebut dengan tangan lantas Ronny mendekatkan mukanya pada belahan pantat wanita berjilbab tersebut . Lidahnya terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan bernafsu Ronny mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus tersebut. Yulia mendesah-desah dengan badan menggelinjang
menahan birahinya, saat lidah Ronny menyusuri belahan pantatnya hingga belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Yulia yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidah Ronny.

Kemudian bibir dan lidah Ronny secara bergantian menyusuri sekujur pantat montok wanita berjilbab tersebut. Tangannya juga menguak belahan pantat ibu muda tersebut dan selanjutnya lidahnya menyapu daerah anus dan sekitarnya yang membuat wanita berjilbab lebar tersebut mengerang penuh birahi. Puas menikmati pantat Yulia yang montok, Ronny kembali menelentangkan ibu muda berjilbab lebar ini. Mata Ronny terarah pada sepasang payudara montok yang seperti gunung hendak meletus. Tangan Ronny dengan lincah jari-jari tangannya meremas remasbuah dada Yulia yang tegak bagai gunung kembar tersebut.

Buah dada Yulia nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuat Ronny tak sabar untuk meremas dan menyedot putting susunya. Sedetik kemudian, payudara wanita berjilbab ini telah berada dalam mulut Ronny yang menyedot dengan nafsu secara bergantian. Puting susu yang telah tegak mengeras tersebut di hisap dan diremas-remas membuat Yulia terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Yulia yang
putih mulus itu dalam sekejap basah oleh liur Ronny. Ronny sudah tak tahan menahan nafsunya.
Ronny tidak menyangka kalau saat ini Ronny berhasil menelanjangi wanita rekan kerjanya yang tampak alim ini dengan jilbab dan pakaian yang tertutup rapat. Birahinya sudah menggelegak di ubun-ubun dengan ****** yang tegang mengeras. Ronny melihat ibu muda berjilbab ini mempunyai badan yang
indah dan terlihat masih kencang.Ronny menyusuri keindahan badan telanjang wanita muda rekan kerjanya tersebut dari muka yang terbalut jilbab hingga ke kakinya. Kemudian mata Ronny kembali menatap kemaluan Yulia yang indah itu, tangan Ronny kembali terulur menjamah bagian kewanitaan wanita alim yang telanjang ini. Ronny merasakan kewanitaan Yulia berdenyut liar, bagai memiliki
kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut-rambut lebat di sekitarnya. Dari jarak yang sangat dekat, Ronny dapat melihat betapa lubang kewanitaan wanita berjilbab lebar tersebut membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Yulia telah pindah ke bawah. Ronny juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Yulia menegang seperti sedang menahan sakit.

Begitu hebat puncak birahi melanda Yulia, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit tertahan , lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya
terengah-engah. Batang kejantanan Ronny segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungnya yang berdegup keras. Yulia masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan
pemandangan sangat seksi di atas kasur ini.
Tangan ibu muda berjilbab ini mencengkram kasur bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya yang terbalut jilbab mendongak menampakkan ekspresi muka menggairahkan, jilbabnya bagai membingkai mukanya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Ronny menempatkan dirinya di antara kedua kaki Yulia, lalu mengangkat kedua paha wanita berjilbab ini, membuat kemaluan Yulia semakin terbuka.

Sesaat kemudian dengan cepat ****** Ronny yang tegang segera melesak ke dalam badan Yulia melalui
lubang memeknya. Ronnypun segera menunaikan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya begitu ganas dan liar, seperti hendak meluluh-lantakkan badan Yulia yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang ****** Ronny menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita alim ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan. Ronny mengerahkan seluruh tenaganya menyebadani wanita yang alim ini. Otot-otot bahu dan lengannya terasa menegang dan terlihat berkilat-kilat karena keringat. Pinggang Ronny bergerak cepat dan kuat
bagai piston mesin-mesin di pabrik.

Suara berkecipak terdengar setiap kali badannya membentur badan Yulia, di sela-sela desah dan erangan Yulia. Yulia merintih dan mengerang begitu
jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh badannya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-ototnya menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan
kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata merem melek, Yulia mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Ronny merasakan batang kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya.
Ronny tak mampu menahan lagi, Kenikmatan yang didapatkan dari jepitan kemaluan wanit alim ini tidak mungkin dilukiskan. Dengan geraman liar Ronny memuncratkan seluruh isi kontolnya dalam lubang memek Yulia, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita berjilbab lebar yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Yulia mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung ****** Ronny ke dalam dasar kemaluannnya. Ronny merasakan jepitan Yulia kian ketat berdenyut-denyut pada batang kontolnya dan cairan kewanitaan wanita alim ini terasa mengguyur batang kontolnya yang datang bergelombang. Ronny menggeram liar disusul Yulia yang mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan badan bagai lumat di atas kasur.

Ronny menyusul roboh menimpa badan motok Yulia yang licin oleh keringat itu. Nafas Ronny tersengal-sengal ditingkahi nafas Yulia
yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang. Badan Ronny lunglai di atas badan telanjang Yulia yang juga lemas.
“Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas…” kata Yulia akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.

“bagaimana mbak Yulia… nikmat kan? Bagaimana jika sekali lagi mbak…” ujar Ronny sambil terengah-engah sementara kedua tangan sibuk meremas – remas buah dada Yulia.
“jangan mas… aku dah gak kuat… kapan-kapan lagi aja mas” sahut Yulia diantara nafasnya yang memburu. Sementara badannya sudah bagaikan kehilangan tulang.
Tetapi Ronny yang tengah asyik meremas-remas payudara Yulia seolah tak mendengar keluhan Yulia, Ronny justru tersenyum buas sambil tangan kanannya bergerak mengelus-elus paha dan kemaluan Yulia yang berlepotan sperma. Diperlakukan seperti itu Yulia hanya bisa pasrah, matanya merem melek sementara badannya sudah tak berdaya.
Ronny menjadi tak tahan. Laki – laki ini segera menindih Yulia yang tengah pasrah. Yulia sempat melirik ****** besar Ronny sebelum ****** besar dan panjang itu mulai melesak ke dalam lubang memeknya untuk yang ketiga kalinya. Wanita alim ini mengerang dan merintih kenikmatan saat dirasakannya ****** Ronny menyusuri lubang memeknya kian dalam, dan wanita ini terpaksa kembali membuka pahanya lebar-lebar untuk menerima sodokan ****** yang besar dan panjang sperti milik Ronny. Tak berapa lama kemudian, Ronny menaik turunkan pantatnya diatas kemaluan Yulia. Kini Ronny mulai menggerak-gerakkan kontolnya naik-turun perlahan di dalam lubang kamaluan wanita alim yang hangat itu. Lubang yang sudah sangat becek itu berdenyut- denyut, seperti mau melumat kemaluannya. Rasanya nikmat sekali. Ronny mendekatkan mulutnya menciumi muka ayu Yulia. Tangan Ronny juga menggerayangi payudara putih mulus yang sudah mengeras bertambah liat itu. Diremas- remasnya perlahan, sambil sesekali dipijit-pijitnya bagian putting susu yang sudah mencuat ke atas. Pinggul wanita alim yang besar ini ikut bergoyang-goyang sehingga Ronny merasakan kenikmatan di dalam selangkangannya. Sementara lubang memeknya sendiri semakin berlendir dan gesekan alat kelamin kedua manusia lain jenis ini itu menimbulkan bunyi yang seret-seret basah.

“Prrttt… prrrttt… prrttt.. ssrrrtt… srrrttt… srrrrttt… ppprttt… prrrttt…”
****** besar Ronny memang terasa sekali, membuat kemaluan Yulia seperti mau robek. Lubang memek wanita berusia 25 tahun ini menjadi semakin membengkak besar kemerah-merahan seperti baru melahirkan. Membuat syaraf-syaraf di dalam lubang senggamanya menjadi sangat sensitif terhadap sodokan kepala ****** laki – laki ini. Sodokan kepala ****** itu terasa mau membelah bagian selangkangannya. Belum lagi urat-urat besar seperti cacing yang menonjol di sekeliling batang kemaluan Ronny membuat Yulia merasakan nikmat yang luar biasa. Meski agak pegal dan nyeri Karen sudah ketiga kalinya disebadani oleh Ronny tapi rasa enak di kemaluannya lebih besar. Lendirnya kini makin banyak keluar membanjiri kemaluannya, karena rangsangan hebat pada wanita alim ini. Ketika Ronny membenamkan seluruh batang kemaluannya,Yulia merasakan seperti benda besar dan hangat berdenyut- denyut itu masuk ke rahimnya. Perutnya kini sudah bisa menyesuaikan diri tidak mulas lagi ketika saat pertama tadi laki – laki ini menyodok- nyodokkan kontolnya dengan keras.

Yulia kini mulai menuju puncak orgasme. Lubang memeknya kembali menjepit-jepit dengan kuat ****** Ronny. Kaki wanita berjilbab ini diangkat menjepit kuat pinggang Ronny dan tangannya mencengkram kasur. Dengan beberapa hentakan keras pinggulnya, Yulia memuncrakan cairan dari dalam lubang memeknya menyiram dan mengguyur kemaluan Ronny disertai erangan panjang penuh kenikmatan. Setelah itu Yulia terkulai lemas di bawah badan berat Ronny. Kaki wanita berjilbab lebar tersebut mengangkang lebar lagi pasrah menerima tusukan-tusukan kemaluan Ronnyi yang semakin cepat.
Tanpa merasa lelah Ronny terus memacu kontolnya dan sesekali menggoyang-goyangkan pinggulnya. Sepertinya ia ingin mengorek-ngorek setiap sudut kemaluan wanita alim ini. Suara bunyi becek makin keras terdengar karena lubang memek Yulia itu kini sudah dibanjiri lender kental yang membuatnya agak lebih licin. Yulia mulai merasakan pegal di kemaluannya karena gerakan Ronny yang bertambah liar dan kasar. Badannya ikut terguncang-guncang ketika Ronny menghentak-hentakkan pinggulnya dengan keras dan cepat.

“Plok.. plokk… plok.. plookk…
crrppp… crrppp… crrrppp… srrrpp… srrppp…” Bunyi keras terdengar dari persenggamaan ketiga kalinya oleh Ronny dan Yulia .
“Mas Ronny….. ouhhh pelan, …!” desis Yulia sambil meringis kesakitan.
Kemaluannya terasa nyeri dan pinggulnya pegal karena agresivitas Ronny yang seperti kuda liar. Akhirnya Ronny mulai mencapai orgasme. Dibenamkannya muka Ronny pada buah dada Yulia
dan ditekankannya badannya kuat-kuat sambil menghentakkan pinggulnya keras berkali-kali membuat badan Yulia ikut terdorong. Muncratlah air mani dari kontolnya mengguyur rahim dan kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut. Karena banyaknya sampai-sampai ada yang keluar membasahi permukaan kasur
Kedua mata Yulia terpejam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ronny Cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Yulia yang lembut. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita alim ini. Yulia hanya bisa terlentang tak berdaya, meskipun hanya sekedar memakai pakaiannya kembali. Melihat tersebut Ronny tersenyum puas karena niatnya menyebadani wanita rekan kerjanya tersebut terbayar sudah. Ronny kemudian bangkit berdiri memakai pakaiannya kembali dan pergi ke kamar mandi dibagian belakang. Beberapa saat kemudian kekuatan Yulia sudah mulai pulih, tapi Yulia jadi bingung karena celana panjang, celana dalam dan BHnya tergeletak diluar kamar. Mau keluar Yulia tidak berani karena takut jika ada pembeli yang masuk. Lima belas menit kemudian Ronny masuk kedalam kamar dan menyerahkan celana panjang Yulia tanpa BH dan celana dalamnya.

“BH dan celana dalammu tak cuci di kamar mandi mbak, tadi kotor kepakai ngelap sepermaku tadi….” Ujar Ronny sambil tersenyum.
Yulia terpaksa memakai pakainnya tanpa celana dalam dan BH, sehingga tampaklah cetakan pantat dan buah dadanya. Dengan gontai Yulia berjalan ke kamar mandi untuk mandi karena jarum jam menunjukkan pukul 3.00 sore. Setelah mandi badan Yulia Nampak segar, kemudian duduk disamping Ronny yang tersenyum memandangnya dengan mesum. Sementara hujan diluar sudah mulai reda, dan jalan mulai ramai oleh pejalan kaki.

Minggu, 28 Agustus 2016

Oh….terus jilat memeku Her terus….

Kamis siang itu aku bermaksud makan siang di sebuah rumah makan fast food di sebuah mall di bilangan Kuningan. Saat aku mendekati rumah makan yang aku tuju tiba2 HPku berbunyi ada sms masuk. Sambil membaca sms aku berjalan memasuki rumah makan tsb. Sampai dipintu hampir saja aku bertabrakan dengan 2 orang wanita ” Eit ! sorry ” kataku sa,bil menoleh sekilas ke arah mereka.

” Herry ?! ” salah seorang dari mereka menegurku. Akupun memandang salah seorang dari mereka yang berbadan besar, tingginya sekitar 170 cm, lebih tinggi dari aku yang cuma 165 cm, posturnya mirip penyanyi Denada hanya dia lebih putih, wajahnya tidak terlalu cantik.








” Hesti ?! ” aku setengah bertanya

” Ya, aku Hesti ” jawab si cewek tadi dan kamipun bersalaman ” Oh ya kenalin ini tante Rini adik papiku ”

” Herry ” kataku sambil menyalami wanita disamping Hesti yang berumur sekitar 45 tahin tapi kulitnya masih putih mulus.
Hesti adalah teman SMA ku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dan dia adalah atlet bulutangkis wanita di daerahku. Prestasinya lumayan, sering juara ditingkat Karesidenan. Kami adalah teman akrab dan kami saling curhat walau tidak pacaran. Hesti sering curhat tentang pacarnya yang sekarang jadi suaminya, kalau aku semasa SMA memang menjomblo.
” Tinggal dimana kamu sekarang Her ” tanya Hesti.

” Di daerah Kalimalang dan kamu ngapain di Jakarta ? ” aku balas bertanya

” Aku baru ngantar suamiku yang lagi ke Thailand bareng suami tante Rini. Datangnya sih masih seminggu lagi. Rencana aku nunggu dia sampai pulang dan aku selama disini aku tinggal dirumah tante Rini di Cipinang, mampir dong Her nih alamatnya ” Jelas Hesti menulis alamat tante Rini dan disodorkan ke aku

” Ok nanti aku mampir, eh ayo makan dulu aku udah lapar nih ” aku mengajak mereka makan.

” Kami baru saja selesai makan. Ok deh kami mau jalan dulu, aku tunggu lho Her ” Tolak Hesti sambil pamit dan pergi.
Hari Sabtu sekitar jam 9 pagi aku pamit istriku kalau aku mau kerumah teman. Setengah jam kemudian aku udah didepan rumah tante Rini di daerah Cipinang. Tidak lama setelah aku ketok2 pagar Hesti dengan mengenakan celana jeans ketat berwarna hitam dan kaos ketat berlengan 3/4 juga berwarna hitam, sehingga tubuhnya yang gempal tapi sexy terbentuk jelas ditambah kulitnya yang putih terlihat semakin putih dengan pakaian tersebut keluar membukakan pintu dan kamipun duduk di ruang tamu.

” Kok sepi, mana tante Rini ama pembantu? ” tanyaku karena hanya Hesti yang dirumah.

” Oh dia lagi ke Bogor sama tetangga kalau disini ngga ada pembantu ” jawabnya. Kamipun ngobrol bernostalgia, maklum kami sudah sekitar 14 tahun ngga ketemu

“Ngomong2 berat badanmu naik berapa kilo Hes ?” tanyaku karena aku ngga bisa menahan rasa penasaran melihat perubahan bentuk tubuh Hesti.

” Dari masa SMA naik 12 kilo sekarang beratku 62 kg he..he..” jawabnya sambil ketawa lepas.

” Wow gile… untung kamu tinggi dan kamu rajin olah raga. tapi sekarang lebih kelihatan sangat sexy lho Hes ” pujiku

” Makanya suamiku ngga mau cari yang lain ” jawab Hesti

” Emang suamimu masih kuat lawan kamu di ranjang ? ” tanyaku memancing, karena aku tahu usia suaminya lebih tua 11 tahun.

” Kalau cuma seminggu sekali sih dia masih kuat cuma 2 tahun belakangan dia terkena diabetes makanya dia mulai jarang. Akunya yang sering pusing2, makanya aku sering marah2 sendiri. Terus terang saja Her terakhir kali kami berhubungan 3 minggu lalu itupun ngga tuntas karena dia ngga kuat. Dia sering begitu Her, tiba2 burungnya turun dan ngga bisa berdiri lagi, aku sering kasihan sama dia ” keluh Hesti .

” Ya itulah salah satu efek dari penyakit gula Hes, terus kamu sendiri bagaimana mengatasinya ? ” tanyaku

” Terpaksa aku sering masturbasi tapi lama2 bosan, Her kamu mau tolongin aku ngga Her ? ” tanya Hesti sambil duduknya pindah ke sofa panjang yang aku duduki.

“Kamu minta tolong apa Hes ?” aku balik bertanya

Hesti terdiam sejenak, dia meraih tangan kananku dan kemudian dicium, tiba2 dia memelukku “Kamu mau melakukan sama aku kan Her” bisiknya. Aku mengangguk dan terus memeluk Hesti sambil mencium pipinya. Sejenak kami perpandangan dan saling melemparkan senyum kemudian bibir kamipun berciuman “Puasi aku Her..” agak serak suara Hesti mengatakannya aku tidak menjawab hanaya tanganku membimbing tubuh gempal Hesti terlentang di sofa dan aku berlutut di sampingnya. Aku mulai mencium bibirnya sambil membelai rambutnya. Ciumanku bergeser ke arah belakang telinga Hesti dan aku menjilatnya lembut. ……ssssshhh….mulut Hesti mengeluaran desisan pelan sambil tangannya meremas2 lembut burungku yang mulai naik dari luar celana yang masih aku kenakan. Tanganku mulai mengelus dan sedikit meremas payudara Hesti, juga dari luar pakaiannya yang sengaja aku tidak berusaha melepaskannya.

“Tunggu, aku buka pakaianku dulu” kata Hesti sambil bangun untuk membuka pakaiannya

“Jangan biar aku yang membuka pakaianmu, kamu duduk aja. ” aku melarang Hesti untuk membuka pakaiananya dan aku yang membuka kaosnya, nampak kulit Hesti yang begitu mulus dan dua gundukan agak besar payudaranya nampak menantang sejenak aku cium belahannya sebelum aku buka branya kemudian aku lepas bra Hesti dan dua gunung yang tadi menggunung kini agak turun tapi masih menggairahkan akupun langsung menjilat sejenak kedua putingnya yang berwarna agak kecoklatan tanganku kini mengarah kekancing jeans Hesti, setelah terbuka aku langsung menariknya kebawah bersamaan dengan CDnya dan langsung memperlihatkan memek Hesti yang montok dan berbulu tidak tebal juga sejenak mencium memek Hesti dan aku membuka pakaianku semua dan kamipun sudah telanjang bulat. Terus terang baru kali ini aku melihat kemulusan tubuh Hesti. Payudaranya yang besar memang sudah tidak kencang lagi, maklum anaknya sudah 2, tapi yang aku kagum adalah perutnya yang tidak buncit layaknya ibu2 yang sudah beranak dan berbadan gemuk, bentuk pantatnya besar dan bulat demikian juga pahanya padat berisi.

“Kenapa bengong ? Yuk dikamar aja” Hesti menegurku sambil senyum dan memegang tanganku

“Jangan, disini aja dulu. Sekarang kamu duduk diujung sofa dan bersandar ” aku menyuruh Hesti dan dia mengikuti kataku dan dengan posisi ini memek Hesti lebih menonjol aku membungkuk mengelus memeknya sambil menjilati payudaranya bergantian, tangan Hestipun mengelus dan mengocok pelan burungku yang mulai tegang. Aku rentangkan kedua paha montok Hesti dan aku berlutut ditengahnya, kucium dan aku jilat2 sebentar pusar Hesti kemudian jilatanku turun ke sekitar jembutnya dan di selangkangannya.

…..hhh…geli Her…tapi terus , enak…… desahnya sambil tanganya mengelus rambutku. Lidahku mulai menjilat bibir memeknya kemudian clitnya, aku jilat sambil agak menekan dengan lidahku…..aaahhhh…..tangannya meremas rambutku sambil menaikan kedua kakinya di pinggir kursi mengangkat pantatnya sehingga memeknya lebih terbuka dan aku merasakan memeknya mulai becek sehingga terasa asin lidahku tapi ini membuat aku lebih bernafsu dan lidahku aku masukan kedalam memek Hesti membuat lendir memeknya semakin banyak meleleh saja dan lidahku semakin liar menjilati memek Hesti. Tiba2 Hesti berdiri dan aku disuruh duduk di lantai dan bersandar di sofa dan dia mendekatkan memeknya kearah mukaku sambil menaikan kaki kanannya ke sofa , tapi karena postur tubuhnya tinggi aku tidak sampai kalau posisiku duduk maka aku harus berlutut untuk menjilat memek Hesti. Akupun mulai mejilati memek Hesti sambil berlutut dan Hestipun lebih leluasa menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangi gerakan lidahku……

….terus jilat memeku Her terus….dan beberapa saat Hesti menekan kepalaku agak kuat sambil pantatnyapun ditekankan kearah mukaku kuat2 dan sesaat tubuhnya bergetar, akupun membantu menekan pantat Hesti dengan kedua tanganku sambil aku hisap2 clitnya……Heerrrr aku kluarr…………ssrtt, srrt….daguku yang agak masuk kememek Hesti merasakan ada lendir agak hangat mengalirinya. Tubuh gempal Hesti yang masih agak gemetar ambruk disofa dan akupun duduk disamping Hesti sambil merangkul dan mengelus rambutnya. “Baru kali ini aku keluar banyak begini, mungkin karena udah lama aku tahan2 ya Her” katanya, aku jawab dengan mencium bibirnya yang disambut Hesti dengan permainan lidahnya didalam mulutku dan akupun mengimbanginya.

Birahi Hestipun naik lagi kini dia lebih agresif, dadaku didorong hingga aku terlentang dan kepalaku bersandar ditangan2 sofa yang empuk, tangan nya langsung memegagang burungku yang ukurannya biasa2 saja karena panjangnya ga lebih dari 15 cm dan diarahkan kemulutnya dan Hestipun mulai menghisap dan menjilat burungku dan aku menahan kenikmatan sambil mengerang….hhhggghhh…..hhhggghhh………….k esiniin pantatmu Hes..dan Hestipun menyodorkan pantatnya yang bulat kearah mukaku, kaki kirinya tetap dilantai sedangkan kaki kanannya dinaikan ke sofa sambil mulutnya tidak melepaskan burungku dan kami melakukan posisi 69.

Beberapa menit kemudian kami ganti posisi Hesti ingin diatas tapi aku tidak mau yang biasa, aku langsung duduk agak melorot disofa dan Hesti langsung ambil posisi membelakangiku sambil memegang burungku dan mengarahkan ke memeknya….hhhh….hampi bersamaan kami mengeluarkan desahan saat burungku measuk ke memek Hesti yang sudah licin oleh lendir nafsunya. Hesti mulai menaik turunkan pantatnya dan dari belakang aku memegangi dan menikmati gerakan Hesti.

Saat aku menikmati gerakan Hesti tiba2 aku merasa ada tangan halus merangkulku dari belakang seorang wanita mencium pipiku, tentu saja aku sangat kaget karena ternyata itu adalah tante Rini,

” Aduuhh..lagi asyik kok ngga ngajak2 sih Hes ” katanya dan akupun langsung mendorong tubuh Hesti dan meraih pakaianku sekenanya dan menutupkannya keburungku, lebih kaget lagi ternyata tante Rini sudah tidak mengenakan pakaian lagi alias telanjang bulat, rupanya dia lewat pintu belakang yang bisa dimasuki lewat garasi dan diam2 menonton kami dari tadi dan rupanya sudah ngga tahan lagi. Hesti berbalik dan tersenyum saat melihat tantenya telanjang dan menghampirinya sambil mencium bibirnya aku makin bengong aja tapi agak tenang berarti ini aman

“Tante bikin kaget kami saja terutama Herry, ngga apa2 Her tante cuma mau ikutan, mampu kan kamu lawan kami berdua ? Biar lebih enak kita di kamar aja yuk ” tantang Hesti sambil senyum dan aku jawab ” mudah2an ”

Kamipun masuk kekamar tante Rini yang tempat tidurnya cukup gede dari belakang aku mengagumi tante Rini yang yang tingginya hanya sekitar 158 cm. Kulitnya putih mulus lebih putih dari Hesti pahanyapun berbentuk bagus walau mulai timbul kerutan, tadi sekilas aku juga melihat jembutnya yang sangat lebat melebar dan aku yakin kalau dia pakai CD ga bisa ketutup semua dan perutnya memang sedikit buncit tapi ditutupi karena kemulusan kulitnya dengan bentuk payudara yang sedang.

Sesaat aku berdiri karena masih agak kikuk dengan tante Rini dan terbaca oleh tante Rini dan dia yang menutupinya dengan mendekatiku sambil memeluk dan menarik leherku sehingga dia bisa mencium bibirku lembut dan memasukan lidahnya kemulutku, lebih nikmat dari Hesti dan ciumannya melorot kebawah dan dia berlutut sambil menghisap pelerku sedang tangannya meremas burungku pelan, rasa kikukupun hilang berganti dengan birahi yang naik apalagi tante Rini sudah mulai menghisap dan menjilat burungku dengan lembut jauh lebih nikmat dari Hesti.

Tanganku meraih Hesti yang langsung aku cium bibirnya dan tanganku mengelus2 memek Hesti.

……………………….sssshhh….hhhhh….ss sshhh…………….

Hanya itu yang keluar dari mulut kami bertiga saat itu. Beberapa menit kemudian posisi berubah kini aku memluk tante Rini dari belakang sambil menciumi tengkuknya tanganku terus mengelus memek dan payudaranya.

Sesaat minta tante Rini telungkup dikasur dan aku menciumi punggungnya tanganku mengelus pantat dan memeknya dari sela2 pantatnya serta pahanya yang terbuka dan saat tanganku mengelus lubang pantatnya aku merasakan disekitarnya ditumbuhi bulu2 halus tangankupun merasakan memek tante Rini sudah becek oleh lendirnya.

Posisiku agak menindih dari belakang tante Rini yang masih tengkurap, Hesti hanya duduk bersandar di bagian kepala tempat tidur melihat kami,

aku terus mencium dan menjilat punggung tante Rini terus melorot kepantatnya disini tante Rini agak mengangkat pantatnya setengah menungging, aku langsung menjilat memek dan lubang pantatnya dari belakang sambil berlutut dilantai “……….aaahhh….ssshh……sini memekmu Hes…..” tante Rini mengerang menahan nikmat jilatanku sambil meraih memek Hesti untuk dijilat. Hestipun menyodorkan memeknya untuk dijilat tante Rini yang sangat enak “aahh…enak tante…..sssshh” Hestipun mendesis kayak ular.

Dari mulutku aku merasakan memek tante Rini sudah sangat becek, kini aku berhenti menjilat memek tante Rini, aku mengarahkan burungku ke memek tante Rini dari belakang , pelan2 aku dorong masuk burungku kememek tante Rini yang sangat licin “……mmmhhh…..aaahhh……” sesaat tante Rini melepaskan jilatannya merasakan nikmat saat burungku masuk. Dengan penuh perasaan aku ayun maju mundur pantatku kadang aku tekan kuat2 sambil aku putar pantatku dan ini membuat tante Rini sering melepaskan jilatannya beberapa saat aku percepat ayunanku membuat tante Rini hanya memeluk erat Hesti dan saat aku tekan dan putar pantatku tante Rini langsung bergetar tangannya memeluk Hesti kuat2 dan mukanya dibenamkan ke memek Hesti “…….mmmmmmmhhh…..” terdengar erangan panjang tante Rini dan burungku merasa ada cairan hangat menyiramnya. Tante Rini orgasme. Aku masih bisa bertahan. Tante Rini langsung tergeletak aku telentang dikasur dan meminta Hesti berada diatas. Hestipun sudah sangat terangsang karena dijilat tante Rini sambil menonton kami. Gerakan Hestipun langsung liar menaik turunkan pantatnya membuat pertahananku hampir jebol aku tahan terus karena aku harus memuaskan 2 wanita ini, rupanya tante Rini sudah puli lagi dan dia langsung mengangkangkan memeknya kearah mulutku yang tentu saja langsung aku jilat, becek sekali memek tante Rini, Dua wanita sekaligus berada diatasku.

Gerakan Hesti semakin cepat demikian juga tante Rini yang aku jilati memeknya iapun mengrekan pantatnya semakin cepat.

” …..aaaahh…..Herrr…..” Hesti dan tante Rini hampir bersamaan mengerang dan menggoyang menekankan pantat mereka kuat2, yang satu kearah burungku sedang yang lain kemulutku, akibatnya pertahanankupun jebol, aku cengkram paha tante Rini dan “cret..cret…cret” spermaku nyemprot ke dalam memek Hesti banyak sekali sampai mengalir kembali ke jembutku.

Hening sesaat. “Gila, gila kamu Her kami bisa kalah” komentar tante Rini

“Ah pas lagi fisik bagus saja tante saya bisa begini” jawabku basa basi.

Akupun menciumi mereka satu2.

Sore aku baru pulang kerumah istirahat sebentar malamnya giliran istri minta
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net