Perkenalkan, namaku Marni, umurku 28 tahun. Orang mengatakan aku adalah janda kembang, selain karena parasku yang cantik, tubuh seksi, juga karena aku belum dikaruniai anak dari pernikahan dengan suami ku terdahulu yang hanya berumur 1,5 tahun. Aku cerai ketika berumur 26 tahun, dikarenakan tidak tahan dengan perlakuan mantan suamiku yang kasar dan tidak perhatian. Tinggi tubuhku 168 cm, dengan ukuran buah dada yang serasi, dan bentuk yang masih sangat bagus serta kencang dan montok. Mungkin karena aku rutin olahraga tiap minggunya, juga pola makan yang sehat. Aku bekerja sebagai pengusaha kue di suatu kota di Jawa Timur. Kali ini akan aku ceritakan kisah yang tidak akan aku lupakan sepanjang hidup.
Langit semakin kelabu, mendung bergulung-gulung mulai memenuhi langit kota.
"Aku harus segera mencari tempat berteduh,” pikirku.
Aku
pacu motor maticku dengan tergesa sambil memperhatikan apabila ada
tempat yang bisa dijadikan berteduh. Namun, sial bagiku, tak lama
setelah itu hujan turun dengan lebatnya, membuat pakaianku basah tak
tersisa. Dan tentu saja membuat pakaian dalam yang aku kenakan saat itu
tercetak dan terlihat jelas dari luar. Hujan turun begitu derasnya,
petir menyambar nyambar, tak mungkin aku meneruskan perjalanan. Walaupun
dengan pakaian yang sudah basah kuyup, aku tetap memutuskan untuk
berteduh. Akhirnya aku menemukan tempat juga.
Di
emperan toko yang sudah tutup itu aku istirahatkan tubuhku dari terpaan
air hujan. Tidak ada siapa-siapa di situ, sambil menunggu hujan reda,
aku periksa kembali isi jok sepeda motorku, barangkali ada lap bersih
yang bisa aku gunakan untuk handuk. Ahh, sial ternyata tidak ada
satupun. Sambil meratapi hujan dalam kedinginan itu, aku dikagetkan oleh
pengendara lain yang berteduh di tempat itu. Ternyata ia seorang
polisi, tergambar dari seragam coklat yang ia kenakan. Mataku terus
mengikuti laju motor yang ia gunakan, hingga terparkir dan dimatikan
mesinnya oleh empunya.
Polisi
tersebut segera melepas helmnya, orangnya sudah cukup berumur,
tergambar dari beberapa uban yang terlihat di rambut cepaknya, kutaksir
umurnya sekitar 40 an. Kumisnya tebal, dan di pipi dan janggutnya
terdapat bekas cukuran brewok yang mulai tumbuh tipis.
Tatapannya ramah, sekilas mirip satu tokoh polisi yang kerap aku lihat
di televisi. Ahh, namun aku lupa siapa namanya. Orangnya berwibawa,
mungkin karena tubuhnya yang tinggi besar dan ditambah kumis tebalnya
itu.
“Mbak, mbak.” Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Ternyata bapak polisi itu telah berdiri di hadapanku.
“Oh iya Pak, maaf-maafkan saya melamun.”
“Ikut
berteduh juga ya mbak, saya tadi pulang kerja, kehujanan ditengah
jalan, tidak sempat memakai mantel, katanya sambil mengelap air di
tangannya.”
“Oh iya Pak, silahkan, saya juga berteduh kok di sini, tadi lupa tidak bawa mantel, hehehe,” Jawabku sekenanya.
Dari
obrolan ngalor-ngidul kala menunggu hujan reda itulah aku mulai
mengenal beliau, Namanya Pak Broto, umurnya sekitar 44 tahun, beliau
bekerja sebagai polisi. Orangnya tinggi, mungkin sekitar 175 cm,
badannya juga besar, masih bagus untuk orang seumuran beliau, ototnya
tercetak pada bajunya yang basah saat itu. Perutnya sedang, tidak terlalu buncit. Tangannya berbulu lebat, semakin terlihat ketika terkena air hujan pada sore itu.
“Wah hujannya deras dik Marni.” Sejak tahu namaku, beliau memanggil dengan sapaan dik, biar lebih akrab katanya.
“Iya nih pak, saya sudah hampir satu jam disini, tapi tidak reda-reda juga” Gerutuku. Obrolan kami semakin cair, dan sudah merembet pada hal-hal keluarga.
“Dik Marni sudah menikah?” Tanya beliau dengan sopan.
“Sudah pak..” Jawabku.
“Wah, sudah punya anak berapa?”, sambungnya.
“Belum punya pak, saya sudah keburu cerai dengan mantan suami saya,”jawabku sambil bercanda.
Beliau agak terkejut. “Iya to? Wah..”
“Lha bapak sendiri bagaimana?”, sambungku. Beliau diam, dan mulai menatap hujan yang tidak habis-habisnya itu.
“Saya
menikah pada saat umur 30 dik, dan sudah dikaruniai 1 putri, namun
sayang. Putri saya meninggal saat masih kecil, istri saya pun menyusul 5
tahun setelahnya karena suatu penyakit, hmmmm”
“Maafkan saya ya Pak”, segera aku putus singkapan duka masalalu itu.
“Saya tidak bermaksud....”
“Ahh, tidak apa kok, santai saja dik.” Sambil wajahnya yang tampan, bersih, dan kebapakkan itu menoleh kearahku dengan bijaknya.
Akhirnya hujan mulai reda ketika hari sudah beranjak gelap. Ketika bersiap untuk pulang, Pak Broto menegurku.
“Dik, mampir kerumah saya dulu yuk. Rumah dik Marni kan masih jauh, masak mau pulang dengan pakaian basah begini?” Sambil tangannya memegang pundakku.
“Ah tidak apa-apa kok pak, biar saya pulang saja, takut merepotkan Bapak nantinya.”
“Ayolah,
tidak ada siapa-siapa kok di rumah, pembantu saya juga sudah pulang
sore begini. Bahaya lho naik motor dengan pakaian basah begini, bisa
masuk angin. Nanti dik marni bisa pakai dulu baju almarhum istri saya.” Akhirnya saya mengiyakan juga, tidak enak menolak niat baik pak Broto.
Setelah perjalanan
yang tidak terlalu jauh. Sampailah pada suatu rumah yang cukup besar,
dan bagus, halamannya luas dan asri. Rumah ini terletak agak jauh dari
rumah sekitarnya, mungkin masih tergolong rumah yang baru selesai di
bangun. Teriakan Pak Broto dari garasinya membuyarkan lamunanku.
“Ayo masuk, ndak usah sungkan-sungkan,” Ajaknya dengan penuh semangat.
Tanpa
menjawabnya, aku segera memarkir kendaraanku di samping motor beliau.
Beliau terus mengajakku memasuki rumahnya yang rapi dan bersih. Lampunya
telah menyala terang, mungkin ulah pembantunya yang sudah pulang ke
rumahnya sendiri. Tidak ada foto kenangan keluarganya di situ, mungkin
Pak Broto tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan panjang.
“Ayo dik silakan masuk,” sambil beliau membukakan pintu sebuahKAMAR
, dan menyilakan aku masuk ke dalam.
“Dulu
ini adalah kamar saya dan alm. istri saya, tapi saya sudah pindah
kamar. Silakan mandi dulu, dan pilih saja baju yang cocok, tidak usah
sungkan ya.”
Beliau segera berlalu dan melangkah ke belakang. Mungkin mencari air minum ke dapur.
Aku
segera masuk ke kamar itu, dan mulai membersihkan diri karena hujan
yang deras mengguyur tadi sore. Setelah segar, aku memakai baju alm.
istri Pak Broto yang ada di lemari itu. Tidak banyak baju yang tersisa,
mungkin sudah diberikan oleh beliau ke orang lain. Akhirnya aku
mengenakan daster yang tidak terlalu tebal sambil aku lapisi dengan
jaket untuk menahan dinginnya malam itu, sambil menyembunyikan puting
susuku yang tercetak dengan jelas. Aku memang tidak memakai BH dan
celana dalam saat itu, apalagi jika bukan karena pakaian dalamku yang
sudah basah karena hujan tadi sore. Hawa yang dingin itu semakin membuat
tubuhku berdesir, puting susuku mengeras, hembusan angin pada
selangkanganpun turut memberi kenikmatan tersendiri.
Aku
segera terbangun dari pikiran mesum itu ketika aku dengar kecipak air
timbul dengan derasnya dari kamar sebelah. Mungkin pak Broto yang sedang
mandi, pikirku. Akhirnya aku keluar ke kamar tamu dan menyalakan TV
untuk menghibur diri. Sementara di luar justru hujan turun lagi, dengan
tidak kalah derasnya. Aduh, aku mulai bingung bagaimana cara pulang nanti.
Pikiranku buyar ketika pak Broto datang dan duduk di kursi depanku. Sambil metetakkan teh hangat beliau mengatakan,
“Sudah
nginep saja barang semalam disini. Lagi pula besok kan hari minggu to?,
libur. Apalagi hujannya deras banget lo dik Marni, Saya ndak tega
membiarkan dik Marni pulang dalam keadaan hujan begini.”Aku
diam tak menjawab, hanya pikiran ini yang bingung memilih. Memilih
nekat pulang apa menerima tawaran Pak Broto. Apalagi aku juga takut
pulang malam-malam, hujan deras lagi. Akhirnya aku memutuskan,
“Baik pak saya mohon izin nginap disini saja Pak, barang semalam, mohon maaf merepotkan bapak.”
“Alah, tidak apa-apa kok, saya malah senang kalau ada yang menemani begini. Hahaha.”
Aku
baru sadar, ternyata beliau datang tadi dengan telanjang dada, hanya
mengenakan sarung yang sudah longgar ikatannya. Ketika beliau sedang
asik menonton TV, aku beranikan memandangnya lagi. Benar dugaanku,
ternyata dada Pak Broto juga berbulu lebat.
Tergambar dari bulu-bulu ditangan nya yang lebat itu. Puting susunya
berwarna coklat tua dan tampak kokoh di antara belukar bulu dadanya yang
bagus itu. Bulunya ibarat barisan, dari
rambutnya, kumisnya yang tebal dan kelihatan kasar, brewoknya, hingga
menerus ke dadanya. Dan akhirnya menerus ke bawah melalui tengah
tubuhnya, pusarnya, dan menghilang di balik lipatan sarung nya itu. Ahh,
pikiranku semakin tidak karuan, apalagi sudah 2 tahun ini kebutuhan
biologis ku tidak terpenuhi. Aku merasa gatal di vagina ku. Mungkin juga
karena suasana yang bertambah dingin itu.
“Dik Marni bisa mijit?”, Pertanyaan Pak Broto membangunkan dari lamunan.
“Bbbisa Pak?”
“Wah, mantep itu, ayo kita pijit-pijitan. Biar nggak masuk angin. Badan saya juga capek, kerja berat seminggu ini”, sambungnya.
Akhirnya
saya yang memijat Pak Broto dahulu, baru kemudian gantian beliau
nantinya. Beliau menggelar karpet di depan TV sambil mengambil bantal
dari dalamKAMAR
.
“Ayo dik Marni!”
“Baik Pak”. Beliau rebahkan tubuhnya yang bersih berwarna kuning
ke coklatan itu di karpet yang sudah di siapkan. Aku mulai mengurut
bagian kakinya terlebih dahulu, sambil aku lumuri dengan minyak pijat.
Benar dugaanku, kakinya juga berbulu lebat dan keriting. Pijatanku terus
naik pada paha beliau. Aku lihat beliau sudah tertidur, mungkin karena
kecapekan dan pijatanku yang memang nyaman. Tak sengaja sarung beliau
tersingkap oleh tanganku. Betapa kagetnya aku, ternyata beliau tidak
memakai celana dalam. Nampaknya belahan pantatnya yang seksi dan berbulu
itu. Aku coba tahan pikiran ini agar tak macam-macam. Akhirnya aku
selesai memijat bagian belakang dari tubuh liat dan kokoh Pak Broto.
“Pak, bangun Pak, bagian depannya belum”.
Aku bangunkan beliau. Beliau mengubah posisinya menjadi telentang,
tanpa sedikitpun membenahi posisi sarungnya. Akupun dapat melihat
barisan bulu kemaluan yang menghilang di balik gulungan sarung yang
sudah longgar itu. Sejatinya akupun merangsang melihat tubuh laki-laki
gagah dan tampan didepanku itu, apalagi bulu dada dan putingnya yang
begitu menggairahkan. Tubuhnya bagus, dan kencang. Buah dari latihan dan
orahraga teratur pikirku. Akupun mulai penasaran tentang penis Pak
Broto, namun aku tak berani meneruskannya. Aku masih menguasai pikiran
jernihku.
Dalam
keadaan selangkangan yang mulai basah karena terangsang mengamati tubuh
Pak Broto. Aku berkonsentrasi memijat bagian depan tubuhnya itu. Aku
mulai dari kepalanya, aku pijat pelan-pelan agar tidak membangunkan
beliau. Sesekali aku mengagumi dan kuberanikan membelai kumis yang
begitu tebal dan indah itu.
Pijatanku
terus berpindah ke bawah, ke kedua tangan beliau yang kekar, dan
sampailah di dadanya yang berbulu itu. Sambil memijat, aku bernaikan
menekan dan memilin puting susu menggemaskan Pak Broto. Beliau tidak
terbangun, hanya sesekali mengeluh keenakan. Aku segera berpindah ke
bawah. Tak kusangka penis Pak Broto telah bangun, menantang dan membuat
cetakan tegak pada sarungnya. Aku hanya berani memandangnya dan memijat
bagian paha dan kakinya saja. Sambil sesekali mencuri pandang, dan
memerkirakan seberapa besar dan panjang senjata milik Pak Polisi ini.
Aku telah selesai dari pijatanku, sambil berlalu melangkah ke kamarku.
Aku tidak enak membangunkan Pak Broto dan menagih janji pijatannya.
Akhirnya aku tinggalkan beliau tertidur diKAMAR
tamu.
Sambil menyelimuti beliau karena udara yang amat dingin malam itu, aku
matikan TV dan melangkah ke kamar yang telah dipersiapkan untukku untuk
tidur.
Aku berusaha untuk
tidur cepat malam itu, agar pikiran tentang Pak Broto itu tidak
keterusan. Ahh, namun apa daya, tuntutan kehausan akan belaian laki-laki
terus mendesakku untuk terus membayangkan Pak Broto, bahkan hingga
dalam tidurku. Tentang sosoknya yang kebapak-bapak an, kumis tebalnya,
bulu dadanya yang lebat, puting sususnya yang indah, tubuhnya yang
bagus, liat, tidak terlalu kekar, sedang-sedang saja. Dan tentang
penisnya yang terbayang dalam cetakan sarung itu.
Aku
terbangun pagi itu dengan perasaan terkejut, selimut yang aku pakaikan
untuk menutupi tubuh Pak Broto semalam kenapa menutupi tubuhku. Ketika
aku membuka selimut, daster belahan dada rendah yang kupakai pun
tersingkap hingga menampakkan salah satu payudaraku. Jangan-jangan
semalam Pak Broto?
Pikiran macam-macam itu mulai merasuki pikiranku. Ataukah aku sendiri yang bermasturbasi hingga membuat ini semua terjadi?
Apakah Pak Broto melihat semua ini?
Deretan
pertanyaan itu memenuhi pikiranku, hingga aku memutuskan untuk berganti
pakaian dengan pakaianku sendiri yang sudah lumayan kering karena
terpaan dari kipas angin semalaman.
Akupun
bersiap untuk pamit pulang kepada beliau. Aku panggili Pak Broto, namun
tak ada jawaban. Hingga aku melihat beliau sedang olahraga ringan di
samping rumah. Dengan kaos basah yang diletakkannya di atas tanaman hias
di pekarangan. Cukup lama aku mengamati tingkah polah beliau selama
berolahraga itu. Tubuhnya berkilau keringat terkena terpaan matahari
pagi, tubuhnya terlihat lebih menggairahkan dengan keringat yang
membasahi tubuhnya itu. Bulu-bulu dadanya tampak lebih jelas, putingnya
begitu menantang. Celana pendeknya pun sudah basah di beberapa bagian.
Akhirnya beliau sadar aku memerhatikannya.
“Oh dik Marni, sudah bangun ya? Tadi saya baru lari pagi, mau ngajak dik Marni tapi masih tidur, ndak enak ngebangunin, haha.”
Sebenarnya
aku ingin menanyakan perihal kondisi tubuhku semalam, apakah beliau
melihat payudaraku yang tersingkap. Namun aku terlalu sungkan, aku
putuskan untuk langsung pamit kepada beliau, dengan alasan ada pekerjaan
yang harus segera ku selesaikan. Akhirnya aku pulang dari rumah beliau
dengan perasaan yang campur aduk, antara sangat berterimakasih, hingga
kagum atas kebaikan dan perhatian beliau.
*****
Selepas
pertemuanku dengan Pak Polisi Broto tempo hari, sampai menginap di
rumah beliau segala. Entah kenapa aku menjadi lebih sering bertemu
dengan beliau. Baik itu karena alasan pekerjaan, yang beliau memesan kue
untuk hadiah pernikahan koleganya, hingga aku yang kebetulan bertemu di
jalan, atau beliau yang sengaja main ke rumahku. Karena seringnya
bertemu, dan merasa banyak kenyamanan ketika bertemu. Akhirnya aku
menerima lamaran Pak Broto untuk menjadi istrinya. Meskipun usia kami
terpaut 10 tahun lebih, tapi kami saling mencintai. Dan aku sangat
bersyukur dipertemukan dengan beliau. Dengan sifat kebapak-bapakannya,
wibawanya, kelembutannya, dan kumis dan bulunya yang begitu terbayang
setiap malam.
*****
Akhirnya,
malam yang sama-sama kami nantikan itu datang juga, selepas capek
melayani tamu-tamu undangan kamipun memutuskan untuk istirahat dulu sore
harinya, menghimpun tenaga untuk malam yang istimewa pada malamnya.
Dengan malas aku bangun dari tempat tidur, aku melangkah keKAMAR
mandi
untuk membersihkan diri setelah seharian capek melayani tamu resepsi
pernikahan. Sambil membersihkan make up pengantin, aku mulai menyabuni
seluruh tubuh seksi ku. Aku menyabuninya dengan teliti, setiap sudut,
agar Pak Broto nantinya akan merasa puas dengan tubuhku yang wangi.
Sambil menyabuni payudara dan kemaluanku, aku mulai merasa terangsang
sendiri. Membayangkan bagaimana nantinya mulut pak Broto dengan kumis
tebalnya itu mengulum, menggesek, dan menetek pada putingku yang
berwarna coklat kemerahan ini. Bagaimana penisnya yang kokoh akan
menembusi dan menyirami vaginaku yang masih sempit dan kering tidak
tersirami selama dua tahun ini.
Akhirnya
aku selesai mandi dan kemudian mengeringkan tubuhku. Aku keluar dari
kamar mandi dengan mengenakan kain batik yang ku kenakan saat resepsi
tadi. Aku memakainya dengan melilitkan pada belahan dadaku. Memang
kainnya tidak terlalu panjang, hanya menutupi dada hingga sampai pada
atas lutut saja. Menampakkan payudaraku yang membusung dan pahaku yang
kuning langsat. Karena tubuh yang belum mengering sempurna, puting
susuku sangat jelas tercetak, dan sedikit basah di payudaraku bagian
bawah.
Akupun
melangkah menuju depan meja rias, menata rambutku, dan sedikit memakai
wangi-wangian. Aku sangat kaget ketika aku sibuk membaluri tanganku
dengan lotion, tiba-tiba sepasang tangan kokoh memeluk pinggang ku dan
membelai perut rataku dari belakang.
“Sayangg,
kamu cantik dan wangi sekali, tubuhmu yang indah ini sungguh menggoda,
ndak salah aku menikahimu..” Desahnya dengan manja di kupingku.
Ternyata itu adalah Pak Broto, yang telah bangun tanpa aku sadari. Aku sangat tersanjung dengan puji pujian yang dilayangkannya.
“Ahh,
Pak Broto, eh Mas Broto bisa sajaa..” jawabku dengan gugup. Beliau
hanya tersenyum, menyaksikan aku yang kikuk sampai lupa menyebutnya
dengan sapaan mas. Memang setelah menikah rasanya lebih nyaman dengan
sebutan mas, meskipun beliau tak mempermasalahkannya.
Belum
berhenti rasa kikukku, tangan beliau tiba-tiba berpindah menangkup
kedua buah susuku yang menantang itu. Kurasakan putingku mulai mengeras
karena rangsangan beliau di perut dan segala pujiannya tadi. Aku
mendesah ketika jari-jarinya yang besar memijit putingku dari luar,
“aahhhhhhh,
mas...” Beliau hanya diam sambil tersenyum. Aku yang sudah keenakan dan
merem melek harus menahan diri. Beliau tidak jadi meneruskan
permainnya, rupanya ia begitu ahli dalam mengendalikan nafsu perempuan,
pikirku.
“Aku
tak mandi dulu ya dik, biar segar, dan capekku hilang, nanti kita
teruskan.” Ucapnya sambil mengecup pundakku dari belakang, beliau
melangkah kekamar mandi.
“Hufftttt, kenikmatanku tertunda,” bathinku..
Sambil
menunggu Mas Broto selesai mandi. Aku sempatkan untuk mengeringkan
rambut yang masih sedikit basah karena mandi tadi, sambil melihat
pekarangan rumah dari jendelaKAMAR
.
Entah kenapa, pekarangan rumah ini begitu indah dan asri, membuat
hatiku menjadi tenang. Sampai tiba-tiba Mas Broto telah di belakangku.
“Hayo, ngelamun ya?” Sambil tangannya memelukku dari belakang.
“Ahh, nggak kok mas,” jawabku sekenanya.
“Ayo kita mulai !”, ucapnya dengan antusias.
Beliau
langsung menerkam susuku dengan kedua tangannya, diremasnya dengan
perlahan, sambil bibirnya yang berkumis tebal mengulum kupingku. Akupun
geli di buatnya. Tangannya kini tak lagi hanya meremas dengan perlahan,
tapi di selingi dengan cubitan ketika menemukan putingku yang telah
mengeras itu.
Tangan
kirinya berpindah dan bergerilnya ke bawah, menyelusup dari belakang,
dang bermain-main di belahan pantatku, sambil meremas-remasnya. Akupun
hanya melenguh dibuatnya. Akupun tak mau kalah, dengan susah payah,
tanganku yang tadinya memegang tangan Mas Broto yang meremasi
payudaraku, berpindah kebelakang dan kutarik ikatan handuk yang
dikenakannya. Jadilah beliau sekarang telanjang bulat di belakangku.
Hingga kurasakan penisnya menyentuh tangan dan bokongku..
“Ahh,
kamu udah ndak sabar ya?” tanpa menjawab, akupun langsung menggenggam
penisnya itu dengan manja. Ternyata penisnya sudah sangat tegang.
Ukurannya cukup besar dan panjang, tanganku agak kesulitan
menggenggamnya.
“Ahhhh,
dik Marni.” Beliau meracau ketika ku sentuh lubang kencingnya. Karena
terlalu asik bermain di belakang, aku tak sadar ternyata kembanku telah
luruh sebagian, hanya tersangkut tangan beliau yang kini telah berpindah
bermain di vaginaku. Payudaraku yang bergantung indah, dan menantang
itu sekarang lebih leluasa untuk di remasnya. Jari-jarinya kadang
berhenti untuk memilin dan menarik putingku. Menciptakan sensasi yang
enak,
“Ahhhh,
terusss masss”, desahanku lebih keras ketika jari tengahnya mulai
menelusup masuk ke liang vagianaku, menggeseknya dengan perlahan. Aku
merasakah vaginaku telah mulai basah dengan cairanku sendiri, aku sudah
tidak cukup kuat berdiri dengan tegak. Tangan beliau yang kanan
berpindah ke mulutku, memasukkan jari telunjuknya ke mulutku. Akupun
paham dan langsung mengulumnya dengan manja.
Dengan
jari yang basah oleh air liurku, beliau mempermainkan putingku dengan
intens. Memencet, memilinnya, cukup lama beliau mempermainkan putingku
seperti itu, bergantian yang kiri dan kanan. Beberapa saat kemudian
beliau berindah ke depan, beliau memagut bibirku dengan lembut dan
rakus, kumisnya yang tebal itu begitu menggelitik bibirku. Cumbuan
beliau turun ke dadaku, mula-mula hanya dijilatinya saja, namun kini
sudah di lahap, nampaknya Mas Broto berusaha melahap seluas-luasnya.
Kadang giginya mengenai putingku yang sudah sangat mengeras. Membuatku
tambah mengerang kenikmatan. Cukup lama Mas Broto bermain dan menyedoti
payudaraku dan putingnya.
“Mmmmbb,
payudaramu enak sekali sayang, kenyal.” Gumamnya sambil terus menyenyot
puting susuku. Sesekali di gigitnya kecil-kecil putingku, dan
dicupanginya payudaraku hingga menciptakan beberapa bekas kemerahan.
Setelah cukup puas bermain di dadaku. Cumbuannya berpindah turun ke
selangkanganku. Lidahnya dan kumisnya yang kasar itu begitu membuat kau
melayang, hingga,
“maasssss,
aku tak tahaaaaaaan laaagiii !” Akupun mencapai orgasmeku dengan
dahsyat, orgasme yang tercapai tanpa penetrasi dari beliau. Hebat sekali
Mas Broto, bathinku..
Akupun
lemas tak berdaya, peganganku pada kusen jendela mulai tidak erat lagi.
Mas Broto dengan paham langsung menangkap tubuh lemas ku yang telah
terpuaskan dengan permainan jari dan mulutnya itu. Beliau kemudian
membopongku ke tempat tidur dan merebahkanku di sana. Aku melihat beliau
berdiri di samping tempat tidur, raut muka yang bahagia, dan kumisnya
yang kembang kempis dan basah di beberapa bagian, mungkin terkena cairan
cintaku tadi, pikirku.
Tubuhnya
penuh keringat, membuatnya begitu menggairahkan. Penisnya kini masih
belum tegak sempurna. Penis yang berukuran besar dengan panjang sedikit
di atas rata-rata itupun seperti mengengangguk-ngangguk mendiami bulu
kemaluannya yang tidak terlalu lebat. Dengan tenaga yang tersisa, akupun
segera bangun dan menarik tubuh Mas Broto hingga terduduk di sampingku.
Akupun segera mendorongnya hingga rebah di samping tempatku tadi.
“Sekarang
giliranku Mas,” bathinku. Akupun segera menciumi bibirnya dan
bermain-main dengan kumisnya yang menggemaskan itu. Lidah kami saling
bertaut, kami berciuman dengan panasnya. Tanganku pun tak tinggal diam,
sambil meraba dadanya yang liat dan mempermainkan puting susunya itu.
Kini ciumanku berpindah ke dadanya yang berbulu lebat itu, aku jilati
setiap bagian dada bidangnya itu, tak kulewatkan sedikitpun tubuh tegap
dengan dada yang indah, berbulu, dan menggairahkannya. Sampailah akau
pada puting susunya yang berwarna coklat muda, berdiri dengan kokohnya
di bulu dadanya yang membelukar. Aku jilati dan aku emuti puting
susunya, sambil sedikit menggigiti dan menarik-nariknya.
Rupanya
beliau terangsang cukup hebat keperlakukan seperti itu. Kepalaku
ditekannya sambil tangannya menyosongkan dadanya agar bisa lebih dalam
akau mengenyotinya. Kini jilatanku terus berpindah ke bawah hingga ku
temukan kejantanan beliau yang telah menantang. Penis beliau sesuai
dengan tubuhnya, bersih, coklat kekuningan, dengan otot-otot yang sangat
menonjol. Membuatnya menjadi sangat indah dan kokoh. Tanpa basa-basi
lagi aku jilat lubang kencingnya. Beliau tersentak,
“aaaaaaaahhhhh”.
Tangannya kini memegangi tanganku yang satunya yang dari tadi
mempermainkan puting susunya tanpa bosan. Aku semakin giat dan semangat
mengulum dan menjilati penis Mas Broto, sambil kusertai dengan
menyedotnya sekuat tenaga agar beliau cepat keluar. Sesekali ku kulum
sambil aku tarik kepala penisnya yang menyerupai jamur itu dengan rakus.
Akhirnya tak salah, lenguhan Mas Broto semakin keras, tangannya kini
memegangi dan menenggelamkan wajahku ke selangkangannya, membuatku
menelan lebih jauh penisnya itu, meskipun tak sepenuhnya muat. Akhirnya
muncratlah sperma Mas Broto ke mulutku,
“aahhh, sayanggggg, aku keluaaaarr...”
*****
“Minum dulu mas..”
Aku
membawakannya teh manis sebelum meneruskan permainan kami yang begitu
hebat tadi. Sambil beliau meminum tehnya, aku duduk di sampingnya
menunggu, sambil tak bosan-bosan tanganku merangkul punggungnya yang
kokoh, dan membelai dadanya yang bidang dan berbulu lebat itu serta
mempermainkan putingnya.
“Ahh
segarrrr,” ucapnya setelah menghabiskan segelas teh manis buatanku.
Sambil beliau mengeluarkan ekspresi siap tempur, dengan kumis lebatnya
yang mengembang. Akupun tertawa melihatnya. Tanpa basa-basi lagi beliau
langsung merebahkanku, dan menindihku. Bibir kami berciuman dengan
ganasnya, lidah kami saling melilit. Ciuman beliau turun ke payudaraku
yang masih penuh dengan bekas air liur dan cupangannya tadi. Kumisnya
yang tebal itu mencoba menggelitik dengan menggesek-gesekkan pada
susuku. Mulutnya tak kuasa untuk membiarkan putingku terpampang begitu
saja.
Dikulumnya
putingku dengan gemas, sambil sekali-kali di sedotnya dengan kuat-kuat.
Menimbulkan sensasi luar biasa ketika sedotan kuatnya itu beradu dengan
rangsangan dari kumis lebatnya itu. Akhirnya beliau bangkit,
memposisikan diri diantara selangkanganku, dibukanya kakiku untuk
menciptakan ruang yang lebih luas. Kini penisnya telah tegang kembali,
siap untuk menyetubuhiku, memberikan kepuasan seksual lebih jauh.
Pada mulanya beliau hanya menggesek-gesekkan ujung penisnya pada mulut vaginaku, “masss, masukkkinn, aku sudahhh tak tahannn,”
Ceracauku
menahan nafsu yang sudah mencapai ubun-ubun.. Beliau hanya tersenyum
menyaksikan aku begitu gelisah tak sabar menanti kan batang nya itu
masuk ke dalam liang vaginaku. Akhirnya beliau memasukkan sedikit demi
sedikit.
“Ahhh”,
aku menggigit bibir bawahku sambil menahan sedikit rasa sakit. Mungkin
karena telah cukup lama liang kenikmatan ini tak menerima tongkat
pemuas, pikirku.
“Arrgghhh,
punyamu sempit sekali dik”. Beliau berhenti sebentar untuk mengambil
nafas, dan membiarkanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu. Dengan
penuh semangat, Mas Broto terus mengayunkan pantatnya ke depan,
mendorong kejantanannya agar lebih masuk ke dalam.
“Ahhhh,
desahnya, Begitu legit”, ceracaunya. Akhirnya penis Mas Broto
benar-benar terbenam seutuhnya dalam liang kewanitaanku. Rasanya penuh
sesak, dan begitu mengganjal di bawah sana. Beliau membiarkan penisnya
terbenam sepenuhnya di dalam vaginaku, sambil tangannya meremasi
payudaraku.
“Ahhh,
dik, sempppit sekali vaginamu ini”. Beliau mulai mengayunkan pantatnya
maju mundur, batang itupun mulai ke luar masuk liang kewanitaanku dengan
lebih lancar sekarang. Semakin cepat, dan semakin cepat mas broto
menggenjotku, bagai tak kenal lelah, kuat sekali stamina Mas Broto,
pikirku. Aku hanya mendesah dan menjerit kecil sambil menggigit bantal.
Staminaku pun rasanya seperti terkuras, di genjot habis-habisan oleh Mas
Broto, tangannya yang kekar itu kini bertumpu di samping tubuhku,
kadang meremasi susuku dengan gemasnya. Akupun tak tinggal diam, aku
remasi dada Mas Broto, aku tarik-tarik putingnya, aku belai dadanya yang
berbulu yang meneteskan keringat pada tubuhku dikarenakan genjotannya
yang semakin keras.
“Massssss,
aku keluarrr”. Aku berteriak tertahan, sambil tanganku merangkul
lehernya. Hingga tubuhnya itu ambruk, lengket menimpa tubuhku.
Tubuh
kami yang penuh dengan peluh pun berpelukan dengan eratnya. Dadanya
yang berbulu begitu menggelitik ketika bergesekan dengan payudaraku.
Orgasme kedua yang hebat telah aku alami, dan Mas Broto sepertinya belum
apa-apa. Dengan sabar dan telaten beliau membiarkanku menikmati
gelombang orgasmeku, mendiamkan posisi berpelukan kami. Sesaat setelah
merasa telah cukup, Mas Broto bangkit dan menciumi ku, dari bibir,
hingga payudara ku yang montok itu kembali di susunya. Setelah birahiku
sedikit bangkit dan aku telah siap, Mas Broto merebahkan tubuhnya
disampingku. Rupanya beliau begitu telaten, tidak egois dengan
memaksakan pemuasan nafsunya, tapi dengan sabar menungguku hingga siap,
dan birahiku timbul kembali.
Mas
Broto mulai memasukkan penisnya dari arah samping, dengan aku yang
masih rebah dengan telentang. Penisnya yang masih kokoh itupun menerobos
vaginaku dengan sangat mulus karena melimpahnya cairan cinta yang baru
aku keluarkan tadi. Beliau menempatkan kaki kananku di di atas
pinggangnya. Tubuhnya sedikit miring dan mulai meggenjotku dari samping
dengan perlahan, kemudian semakin cepat. Hanya desahan yang mengiringi
sodokannya, aku hanya merintih kenikmatan sambil berpegangan pada tangan
kekar beliau yang berpegangan lengan kiriku.
“Ahhh,
enak maaas”. Kadang tangannya tak lagi berpegangan pada lenganku, tapi
pada payudaraku, sambil meremas-remasnya. Kini Mas Broto mencabut
penisnya yang mengkilat dan masih tegang itu, sambil memintaku berganti
posisi merangkak. Dengan sigap Mas Broto menyodokkan penisnya dengan
cepat, bahkan sangat cepat, hingga terdengar nyaring bunyi kecipak
benturan antara buah zakar dan kulit pahaku. Juga benturan kulitnya
dengan pantatku.
Terasa
sekali penisnya masih keras, dan staminanya masih sangat kuat. Dengan
cepat beliau mencabut penisnya, dan memposisikan diriku telentang.
Beliau lalu menubrukku dan memasukkan penisnya dari arah depan. Mirip
posisi yang pertama tadi, hanya saja kini tubuhnya sepenuhnya ambruk
menimpa tubuhku. Tubuh kami lekat satu sama lain karena keringat yang
cukup banyak. Mas Broto begitu cepat memompaku dengan tongkat kokohnya
itu.
“Mas, aku mau saaampppaiii.” Aku meracau, berteriak tertahan.
“Bareng dikkk, aku juga mau keluarrrr..” Kurasakan penisnya mulai berkedut-kedut.
“Ahghhghh,
dik, aku mau keluarrrr...” Dengan sodokan yang lebih cepat dan keras,
penis Mas Broto seperti mencapai rahimku. Akupun meracau, mendesah
dengan keras, merasakan orgasmeku akan datang lagi.
“Aghghghhg,
aku keluaaaarrrr.” Keluarlah cairan orgasmeku yang ketiga kalinya
bersamaan dengan orgasme dahsyat Mas Broto. Di tembakkannya air mani
yang begitu banyak bebarengan dengan cairan cintaku. Membuat
selangkanganku begitu becek, sampai-sampai meluber ke pantat dan
mengenai lubang anusku.
Sungguh
persetubuhan ini begitu membuat tubuhku begitu terasa capek. Namun aku
sangat puas dengan permainan yang begitu hebat dari suamiku ini. Setelah
orgasme hebat tadi, kami masih saling berpelukan, tanpa merubah posisi
tubuh kami, dengan Mas Broto yang masih menindihku. Beliau akhirnya
mencabut penisnya yang masih setengah ereksi dan menciumku dengan begitu
hangat, dan merebahkan diri di sampingku.
“Ahhh,
kamu hebat dik, vagianmu begitu keset, sempit..” puja-puji keluar dari
mulutnya. Aku sekali lagi dibuatnya tersanjung. Tanpa menjawab, aku pun
mencium bibirnya dengan begitu lama dan erat, menikmati kegelian oleh
kumis lebatnya itu, sambil mengucapkan rasa terimakasih dan kebanggan
atas Mas Broto di dekat telinganya. Beliau hanya tersenyum dan kemudian
memelukku dengan erat. Aku rebahkan kepalaku di dadanya yang
menggairahkan itu, sambil terus membelai bulu dan perutnya yang kokoh.
Tak Lama ternyata aku tertidur. Aku sadar ketika Beliau membangunkanku
untuk makan malam.
“Dik, ayo bangun dulu,” sambil membelai wajahku.
“Sudah jam 9 malam lho, kamu pasti lapar, ayo makan dulu,” sambil dikecupnya puting susuku dengan mesra.
Tak
bisa dipungkiri, perutku memang sudah sangat lapar, sejak persetubuhan
luar biasa berjam-jam yang baru aku alami dengan Mas Broto tadi. Kamipun
makan bersama, karena begitu lapar, aku tak sempat memakai pakaianku
kembali, membiarkan tubuhku telanjang bulat tanpai sehelai benangpun.
Mas Broto hanya senyum-senyum genit memperhatikan aku makan dengan
lahapnya dengan keadaan tubuh yang polos terbuka.



Wujudkan Impian anda menjadi Bandar Togel Online.
BalasHapusJangan hanya menjadi pemain, Tetapi milikilah website anda sendiri.
Kami adalah jasa pembuatan situs judi Togel online, yang aman dan terpercaya.Pasaran Unlimited,No-Limit Pasaran.
Kami juga menyediakan Demo Web/Demo admin dan Demo User.jadi jelas sedikitpun kami tidak ada unsur untuk tipu menipu melalui online.
JASA PEMBUATAN WEBSITE TOGEL
JASA PEMBUATAN WEBSITE POKER
JASA PEMBUATAN WEBSITE JUDI
JASA WEBSITE TOGEL
JASA WEBSITE POKER
JASA WEBSITE JUDI
PEMBUAT TOGEL
PEMBUAT POKER
PEMBUAT WEB JUDI
Grendyshop88.com jasa website judi online